Mengenal Status Jalan Dari Fungsi Sampai Warna Marka Jalan

Otomotif1.com – Di Indonesia, status jalan dikelompokkan berdasarkan tiga hal, yaitu fungsi, administrasi pemerintahan dan muatan sumbu. Dari ketiga kelompok tersebut, dibagi lagi menjadi beberapa jenis yang lebih spesifikasi lagi. Perbedaan dari ketiga kelompok tersebut biasanya memiliki ciri atau warna-warni yang diterapkan pada jalan tersebut.

Karena itu, bagi anda yang melakukan mudik kemarin dan jeli melihat kondisi jalan pasti bertanya, kenapa ada beberapa memiliki garis putih dan kuning.

Selain itu, kita sering kali mengumpat dalam hati ketika melalui suatu jalan yang dibiarkan terbengkalai, rusak parah tanpa tindakan dari pihak berwenang, meski sudah banyak pengaduan dari masyarakat sekitar bahkan sampai diberitakan di media.

Hal ini sering dialami oleh masyarakat yang pada umumnya tinggal di batas daerah dan batas provinsi. Nah, kenapa hal tersebut bisa terjadi, yuk kita simak sebentar penjelasannya di sini.

Pembagian kewenangan kepengurusan jalan dibagi menjadi beberapa bagian, hal ini di tulis dalam Peraturan Pemerintah nomor 34 tahun 2006.

Jalan Nasional

Adalah jalan yang menghubungkan antar provinsi pada suatu wilayah, dan berada bawah kewenangan negara. Hal ini ditertuang dalam Peraturan Menteri (Permen) Perhubungan No 67 Tahun 2018.. Dalam hal ini di kelola oleh Kementrian PU. Dan biasanya Jalan Provinsi atau Jalan Nasional ditandai dengan garis warna kuning.

Jalan Nasional dapat dilalui dengan angkutan utama dengan kecepatan > 60 km/jam. Kapasitas pada jenis jalan nasional atau arteri lebih besar dari volume lintas rata-rata. Selain itu, yang perlu dimenjadi perhatian oleh masyarakat jalan nasional atau jalan arteri tidak boleh terganggu oleh kegiatan lokal.

Jalan Provinsi

Jalan yang menghubungkan antar kabupaten/kota dalam satu wilayah provinsi, dan biasanya ditandai dengan garis warna putih.

Jalan Kabupaten/Kota

Jalan yang menghubungkan antar kabupaten, kecamatan, kelurahan atau desa. Dan umumnya jalan ini sedikit lebih kecil dari jalan provinsi.

Jalan Desa

Sebenarnya jalan desa ini hanyalah tambahan saja, hal ini dikarenakan setiap desa sudah memiliki anggaran sendiri, dan mereka bisa mengelola sendiri dana tersebut, salah satunya dengan menganggarkan perawatan jalan desa.

Jalan Berdasarkan Pengelompokan Muatan Sumbu

Jalan Kelas I – jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor, termasuk yang memiliki muatan dengan lebar tidak melebihi 2500mm, ukuran panjang tidak melebihi 1800mm, dan beratnya lebih dari 10 ton.

Jalan Kelas II – jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor, termasuk yang memiliki muatan dengan lebar tidak melebihi 2500mm, ukuran panjang tidak melebihi 1800mm, dan berat maksimal tidak lebih dari 10 ton. Jalan kelas ini sesuai untuk angkutan peti kemas.

Jalan Kelas III A – jalan arteri dan kolektor yang dapat dilalui kendaraan bermotor, termasuk yang memiliki muatan dengan lebar tidak melebihi 2500mm, ukuran panjang tidak melebihi 1800mm, dan berat maksimalnya 8 ton.

Jalan Kelas III B – jalan kolektor yang dapat dilalui kendaraan bermotor, termasuk yang memiliki muatan dengan lebar tidak melebihi 2500mm, ukuran panjang tidak melebihi 1200mm, dan berat maksimalnya 8 ton.

Jalan Kelas III C – jalan lokal dan lingkungan yang dapat dilalui kendaraan bermotor, termasuk yang memiliki muatan dengan lebar tidak melebihi 2100mm, ukuran panjang tidak melebihi 900mm, dan berat maksimalnya 8 ton.

Mulailah kritis terhadap kondisi jalan. Karena jalan yang dibangun ini atas pajak yang selama ini kita bayarkan.