Benarkah Mobil dan Motor di Indonesia Tidak Perlu Radiator? Ini Penjelasannya

Otomotif1.com – Fungsi utama radiator yang paling utama adalah sebagai penstabil temperatur pada mesin kendaraan, akibat dari proses pembakaran yang terjadi di ruang mesin, yang menghasilkan udara panas pada seluruh bagian mesin. Temperatur yang tinggi pada mesin ini kemudian distabilkan melalui proses pendinginan melalui radiator.

Dalam proses pendinginan mesin sendiri terdapat dua cara yang dikenal secara umum, yakni pendinginan dengan sistim yang menggunakan udara (Air Cooling System), dan sistim yang menggunakan cairan/air (Water Cooling System).

Pada Air Cooling System, biasanya menggunakan Fan atau Kipas pendingin atau memanfaatkan udara disekitar mesin yang berhembus melintasi mesin sehingga terjadi pendinginan mesin dari luar secara perlahan.

Sedangkan pada Water Cooling System, menggunakan media air atau cairan pendingin. Penggunaan Radiator sangat berperan penting untuk menstabilkan temperature yang berlebih saat proses pembakaran pada runag bakar mesin.

Komponen Radiator ini sendiri terbagi dalam beberapa bagian terpisah sesuai dengan fungsinya masing-masing, seperti: Radiator, Kipas Radiator (Radiator Fan), Pemompa Air (Water Pump), Pengukur Suhu/Temperatur (Thermostat), dan Penutup Bertekanan (Pressure Cap).

Namun, seringkali terdapat kesalah-pahaman dalam hal penggunaan water coolant atau Radiator Coolant, khususnya pada mobil atau kendaraan yang digunakan didaerah yang beriklim tropis. Karena sejatinya, radiator coolant relevansinya hanya digunakan pada kendaraan yang digunakan di daerah dingin yang memiliki iklim dengan empat pergantian musim.

Kandungan propylene glycol pada radiator coolant yang digunakan pada radiator memiliki titik didih yang yang tinggi dan titik beku yang lebih rendah dibanding air biasa sehingga tidak akan membeku pada temperature udara yang rendah dan berfungsi sebagai anti beku atau “Anti Freeze”.

Propylene glycol memang efektif digunakan untuk menghindari freeze engine atau kebekuan pada mesin akibat cuaca dingin sehingga akan menghambat proses pembakaran pada ruang mesin.

Sementara, untuk negara yang beriklim tropis seperti di Indonesia sebenarnya tidak memerlukan water coolant terlebih yang mengandung propylene glycol, karena selain tidak diperlukan propylene glycol ini dapat menyebabkan lapisan karat pada bagian mesin yang dapat diindikasikan jika kita membuka tutup radiator, lapisan karat akan naik ke permukaan air yang tampak jika tutup radiator ini dibuka.

Hal ini dijelaskan oleh Arief Hidayat, CEO PT Wealthy Indah Perkasa, dalam acara bincang-bincang virtual bersama rekan-rekan media otomotif yang bertajuk “Buka-Bukaan Bareng Wealthy (#BukBer-Edisi 3)” pada Jum’at lalu, (5/6).

Pada acara ini Arief menjelaskan, penggunaan air pada Radiator yang terbaik adalah dengan menggunakan air distilasi atau air suling (Distilation Water), bukan air sumur/air tanah ataupun air mineral.

“Karena penggunaan air mineral atau air sumur/air tanah, kandungan mineral didalamnya dapat mengakibatkan timbulnya karat pada mesin, selain itu perlu diperhatikan juga tingkat keasaman cairan pendingin (PH Scale) yang digunakan agar tidak kurang atau melebihi dari tingkat keasaman yang dianjurkan yakni memiliki PH–7 ” jelasnya.

Bila tingkat keasaman air (PH) kurang dari 7 maka dapat mengakibatkan timbulnya karat, dan apabila tingkata keasamannya melebihi dari PH–7, maka akan mengakibatkan overheating pada radiator sehingga akan menggangu kinerja pada mesin bahkan dapat mengakibatkan blok mesin retak bahkan pecah.

Lalu bagaimana dengan di Indonesia yang beriklim tropis?

Lebih jauh Arief melanjutkan kembali penjelasannya, “Untuk perawatan mobil/motor di Indonesia, perlakuan yang terbaik pada mesin adalah cukup dengan penggunaan Radiator Treatment, jadi tidak perlu menggunakan Radiator Coolant seperti penggunaan kendaraan dinegara-negara yang memiliki musim dingin atau negara yang memiliki empat musim”.

Penggunaan Radiator Coolant hanya akan memperpendek usia Radiator dan mesin secara keseluruhan akibat timbulnya lapisan karat, dan ini sangat merugikan sekali.

Dengan menggunakan Radiator Treatment, pemilik kendaraan disarankan hanya perlu melakukan penggantian cairan Radiator Treatment ini setelah mencapai 20.000 Km atau setelah 2 tahun penggunaan dan cukup hanya satu kali penggantian atau sesuai dengan rekomendasi pabrik mobil.

“Hindari penggunaan air sumur, air mineral dan Radiator Coolant yang berbahan dasar Propylene Glycol dan bahan yang mengandung anti karat, sebelum menggunakan Radiator Treatment jangan lupa untuk menguras air dari Radiator dan seluruh system pendingin serta menambahkan penggunaan Radiator Flush Cleaner dan air untuk membersihkan lapisan karat yang menempel pada lapisan dalam radiator dan system pendingin lalu masukkan Radiator Treatment pada tangki tambahan radiator untuk hasil yang maksimal,” pungkas Arief.

Reporter-SonnyWibz

UPDATE TERBARU

Related news

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here