Caping Redaksi: Mobil Esemka, Proyek Basi Yang Ditiup Terus

Otomotif1.com – Membaca sebuah catatan dari seorang wartawan senior tentang polemik Esemka yang berkepanjangan, menarik juga untuk di simak. Pasalnya, belakangan mendekati ujung masa kampanye, mobil ‘ajaib’ itu kembali dihembuskan oleh beberapa media, bahkan oleh media besar.

Entah sudah berapa kali saya tertawa terus kalau membaca di media massa nama mobil Esemka. Terakhir kali saya tertawa ketika Cawapres Ma’ruf Amin mengeluarkan statemen bahwa mobil Esemka bakal keluar pada bulan Oktober 2018. Sampai sekarang belum keluar juga tuh batang hidung mobil tersebut secara resmi ke pasar.

Nama Esemka mencuat ke permukaan pertama kali gara-gara Joko Widodo tahun 2012 pada waktu dia masih menjabat sebagai walikota Solo. Bahkan Jokowi, yang sekarang menjadi petahana dalam pemilihan pilpres 2019, menjadikan Esemka sebagai mobil dinasnya sebagai walikota saat itu.

Mobil yang diberi nama Esemka ini diklaim sebagai mobil buatan pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Solo, Jawa Tengah. Mobil Esemka generasi pertama adalah Esemka Rajawali, yang dijadikan mobil dinas Jokowi.

Mobil ini  SUV 7 penumpang dengan kapasitas mesin 1500 CC bertenaga 105 hp pada 5500 rpm dan torsi 145 Nm pada 4100 rpm, dikombinasikan dengan transmisi manual 5-kecepatan.

Katanya Rajawali 1 dikerjakan oleh siswa SMKN 2, SMKN 5 dan SMK Surakarta di bawah bimbingan Sukiyat, pemilik bengkel Kiat Motor, yang kabarnya jadi mentor para siswa. Tapi saya kurang percaya jika para siswa membuat mobil itu dari nol dan betul-betul hasil karya mereka.

Setelah Rajawali 1, akhirnya muncul lagi Rajawali 2 yang diklaim sebagai penyempurnaan dari sebelumnya. Nama Esemka dan Jokowi pun mulai melambung di pusaran media massa. Apalagi ketika Jokowi digadang-gadang sebagai Cawagub DKI Jakarta. Bahkan dalam perkembangannya Jokowi mengklaim pihak Esemka sudah mendapat pemesanan mobil sampai ribuan unit.

Akhirnya media massa mulai mengendus ketidakberesan Esemka. Setelah dilakukan penelusuran, mobil itu mirip dengan mobil buatan Guangdong Foday Automobile dari Cina.

Rajawali 1 dan Rajawali 2 sangat identik dengan Foday Explorer 3 dan Foday Explorer 6. Begitu juga dengan mobil double cabin Esemka Digdaya yang identik dengan Foday Xiongshi F22. Tapi semuanya diklaim sebagai mobil Esemka, buatan Indonesia dan karya pelajar SMK.

Tidak hanya main di SUV dan double cabin, Esemka juga merilis pick-up yang diberi nama Esemka Bima, padahal itu mobil buatan Foday juga.

Pada April 2019 kemarin, sebuah media besar menuliskan bahwa Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah memberi sertifkat uji tipe (SUT) untuk 11 tipe mobil Esemka. Mobil pun disebut sudah laik jalan.

Tapi jangan lupa, pada Oktober 2018 lalu, delapan mobil Esemka juga dinyatakan sudah lolos uji tipe.

Nah, apakah ke-11 mobil yang dituliskan oleh media tersebut itu adalah sudah termasuk mobil yang terdahulu, atau ada tipe maupun model baru yang diuji ? Itu yang menjadi pertanyaan.

Karena kalau model baru yang diuji, wow hebat sekali pengujiannya hanya dalam waktu hitungan bulan.

Menurut saya, isu mobil Esemka ditiup-tiup terus, padahal ini proyek yang basi. Esemka sebagai merek mobil tidak jelas dan tak memiliki track record pabrikan yang transparan yang jernih. Coba tengok pabrikan mobil yang bermain di pasar Indonesia, semuanya jelas dan rekam jejak dijamin pasti.

Kalau kita mau menyebut nama merek, di Indonesia beredar kok merek mobil dari Cina yakni Wuling dan DFSK. Keduanya memiliki laporan investasi dan pabrikan yang jelas dan transparan sehingga diketahui sejernih mungkin oleh media massa dan publik. Dengan adanya isu Esemka, bisa jadi akan merusak reputasi kendaraan asal Tiongkok yang sudah melakukan investasi tidak sedikit di Indonesia

Toyota, Mitsubishi, Wuling, Nissan memproduksi mobilnya di Indonesia dan memakai tenaga kerja lulusan SMK. Lulusan SMK itulah yang mengerjakan mobil-mobil yang dibuat di Indonesia, tapi bukan berarti mobil itu dibuat oleh para pelajar SMK atau lulusan SMK. Mereka memproduksi di bawah naungan teknologi dan SDM yang diatur oleh pabrikan masing-masing.

Kita itu harus memberikan suri tauladan kejujuran kepada generasi penerus, kalau tidak anak-anak bangsa ini bisa rusak. Jangan mengajari generasi muda dan generasi penerus kita menyuguhkan data-data yang direkayasa, yang seolah-olah fakta dan betul padahal sebenarnya menyesatkan dan kabur.

Pihak Esemka harus jujur dan memberikan data yang jelas, transparan dan sejernih mungkin. Industri otomotif itu bukan industri main-main, apalagi ini berkaitan dengan konsumen pembeli mobil.

Ditulis oleh Ignatius  Budiarto

 

UPDATE TERBARU

Related news

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here