Jogyakarta Jadi Ajang Kopdar Pengguna Harley Davidson Tua

 

Surabaya, Otomotif1.com – Kota Gudeg Yogyakarta, kembali menjadi pusat kegiatan para penggila motor Harley-Davidson tua keluaran tahun 1903 sampai 1984. Acara yang digagas Vintage Harley-Davidson Enthusiast of Indonesia (VHDEI), dengan tajuk Indonesia Heritage Motorcycles akan mencoba mencatat rekor Musium Republik Indonesia (MURI) dengan satu event, konvoi 250 lebih motor Harley Davidson Klasik, dari Candi Prambanan menuju Tebing Brexit Sleman, Yogyakarta.

Komunitas yang dibentuk sejak tahun 2012 ini, telah memiliki anggota kurang lebih sebanyak 200 personel. Kegiatan ini bukan hanya sebuah pertunjukan atau show off dari komunitas Moge tua dan terbesar di Indonesia, melainkan juga adalah bentuk dari sebuah upaya untuk melestarikan keberadaan unit motor tua.

Fahad Ilhamsyah, Ketua Panitia Indonesia Heritage Motorcycles ketika dihubungi Otomotif1, Jumat (20/7) mengatakan, kegiatan ini dalam rangka upaya untuk pemecahan rekor MURI dan agenda ini sudah digagas cukup lama.

“MURI sendiri sudah mengkonfirmasi dan nantinya aka nada 250 bikers yang melakukan riding dari Prambanan menuju Brexit dengan menggunakan Harley-Davidson keluaran tahun 1903-1984 sambil mengenakan Surjan. Ini akan menjadi rekor baru, karena sampai saat ini belum ada yang melakukannya, apalagi dengan jumlah banyak. Mengingat, jumlah motor HD tua asal Amerika ini saat ini sudah tidak banyak lagi ada di Indonesia,” ungkapnya.

Lebih jauh Fahad memaparkan, jika pemecahan rekor ini merupakan sebuah kesatuan dari acara Indonesia Heritage Motorcycles yang dipusatkan di kawasan Candi Prambanan pada 20-21 Juli 2018.

“Sejauh ini diperkirakan aka nada 1000 bikers motor lawas dari seluruh penjuru Indonesia, bahkan beberapa bikers dari Amerika dan Qatar sudah memastikan diri untuk hadir memeriahkan acara yang baru pertama kali diadakan oleh Vintage Harley-Davidson Enthusiast of Indonesia (VHDEI),” imbuhnya lagi.

Acara ini juga akan dihadiri oleh Ketua Umum HDCI Komjen (Purn) Nanan Sukarna, yang memang mendukung kegiatan ini.

Menurut Nanan, dirinya sangat memaklumi jika motor tua memang banyak memiliki masalah, bukan hanya pada mesin dan suku cadang, tapi juga administrasi kepemilikan. Namun, pihaknya mencoba memberikan kebijakan pada pemilik motor tua yang sebagian besar memang sudah tidak memiliki surat tersebut dapat dikendarai di jalan raya, hanya bila ada even.

“Saya dukung jika sedang even motor tua, karena saya tahu banyak dari pemilik motor tua yang tidak ada suratnya. Tapia da kebijakan dari aparat ketika ada even seperti ini, agar tidak ada masalah di jalan nantinya,” ungkap mantan Wakapolri ini.

Nanan juga mengingatkan, agar club pecinta sepeda motor tetap bersatu, meski berbeda. Ia juga mencoba merobah pola pemikiran club motor yang selama ini hanya berkutat touring dan lainnya, menjadi lebih bermanfaat dan berguna bagi masyarakat serta mendukung program pemerintah.

“Harapan saya, club boleh beda tapi semuanya bersatu, brotherhood, bersatu, bersaudara. Jangan gara-gara club motor nantinya tidak bersatu. Nanti si Prambanan, lepas semua atribut club motor, kita pakai kaos yang sama Indonesian Bikers,” ujarnya.

Beberapa kisah menarik sempat mewarnai dan mengiringi perjalanan para peserta. Misalnya saja, ada pemilik motor yang kondisi motornya sudah lama teronggok di gudang, dan akhirnya bisa dinyalakan kembali, hingga bisa ikut acara kegiatan ini.

UPDATE TERBARU

Related news

- Advertisement -