Tantangan Biker Bernyali di Balik Indahnya Pemandangan dan Misteri Jembatan Gladak Perak

Lumajang,Otomotif1.com – Gladak Perak atau Piket Nol bagi masyarakat Lumajang dan Malang bukanlah tempat asing. Jembatan megah ini menjadi penghubung utama Lumajang-Malang yang topografinya memang bergunung dan berbukit. Dibalik jalanan  yang penuh kelokan maut, terhampar indah pemandangan menakjubkan dan sejuknya hawa pegunungan di lintasan jalur selatan Jawa ini.

Bagi para biker Jawa Timur, lokasi Piket Nol sudah tidak asing. Meski banyak cerita mistis di balik kemegahan masa lampau jembatan Gladak Perak.

Letak Jembatan Gladak Perak berada di Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang.  Dibangun pada tahun 1925 pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Salah seorang insinyur pribumi yang turut membangun Jembatan Gladak Perak itu adalah Ir Soekarno Presiden RI pertama.

Mengenai asal muasal nama Gladak Perak terdapat banyak versi, entah mana yang benar. Ada yang mengatakan, nama Gladak Perak berasal karena jembatan ini dibangun menghabiskan ribuan uang Golden Perak milik Belanda tempo dulu, kemudian jembatan ini di cat berwarna perak, sehingga ketika terkena sinar matahari dari kejauhan nampak ke perak perakan warnanya.

Sementara versi lain mengatakan, dahulu jembatan Gladak Perak dibangun dengan tumbal seorang gadis jelita penari ledek yang di pergelangan tangannya disematkan gelang perak sebagai penolak bala.

Terlepas dari semua hal yang diulas di atas, kalau kita melihat langsung Jembatan Gladak Perak, maka kita tidak bisa membayangkan bagaimana  proses pembangunannya saat itu.

Kami yang melintasi dan menulisnya pun sulit membayangkan bagaimana sebuah jembatan dengan medan tergila ini bisa dibangun oleh tenaga manusia, dengan jalan membelah batu cadas raksasa yang keras, yang posisinya berada ditepi jurang yang dalam.

Tidak mengherankan jika Jembatan Gladak Perak menyimpan misteri dan cerita horor, karena banyaknya pribumi kala itu yang tewas karena terjatuh ke dalam jurang yang sangat dalam saat melakukan pembangunan pekerjaan tersebut.

Pada masa perang kemerdekaan, jembatan Gladak Perak pernah ledakan oleh Zeni Pioneer 22 Jatiroto, hal ini dilakukan untuk memutus mobilitas tentara Belanda ke arah Pronojiwo. Sampai akhirnya pada tahun 1952, jembatan ini dibangun kembali.

Campur tangan pemerintah setempat yang pada akhirnya memutuskan untuk tidak lagi menggunakan Jembatan Gladak Perak pada tahun 2001. Sebagai gantinya, Pemda setempat bersama pemerintah pusat membangun jembatan baru yang berada di sisi selatan jembatan lama Gladak Perak yang sampai digunakan saat ini.

Selain sisi kelam masa pembangunan jembatan Gladak Perak, ternyata jembatan Gladak Perak ini dijadikan tempat pembuangan mayat korban keganasan G30 S PKI. Mayat rakyat yang di sembelih oleh pemberontak PKI banyak dibuang ke dalam jurang jembatan Gladak Perak.

Bahkan menurut cerita penduduk setempat tidak sedikit mayat mayat tersebut digantung di atas jembatan tutur Pak Soekaryo (64) yang menjadi saksi hidup sampai saat ini.

Pada era tahun 80 an, saat Petrus (Penembak Misterius) merajarela. Jembatan Gladak Perak kembali menjadi pembuangan korban Petrus, bahkan ada beberapa korban yang masih hidup dibuang ke dalam jurang yang sangat dalam itu.

Mitos seram bercampur aroma mistis pun merebak, mulai dari penampakan orang yang tiba tiba melintas di jembatan ini, dan hal ini banyak di alami oleh pengendara yang melintasi jembatan ini. Hal inilah yang menyebabkan banyaknya kejadian kecelakaan.

Menurut penuturan Pak Soekaryo, titik menyeramkan sebenarnya berada di lokasi jembatan lama. “Kalau orang yang melintas sudah kemalaman, mereka memilih menunggu di warung Piket Nol atas yang letaknya berada di ujung Jembatan”, jelas Pak Soekaryo.

Lebih jauh Pak Soekaryo menjelaskan, banyaknya kecelakaan disebabkan kejadian di luar batas nalar manusia.

”Mereka yang lewat umumnya banyak memilih menungu sampai waktu gentingnya hilang, yaitu lewat dari pukul 03.00 WIB,” tutur Pak Soekaryo.

Sementara itu antara Jembatan Gladak Perak dengan kawasan Piket Nol, memang tidak bisa dipisahkan. Karena lokasi Jembatan Gladak Perak terletak di kawasan Piket Nol. Dimana dulu kawasan ini menjadi tempat pemeriksaan angkutan yang membawa hasil bumi yang di jaga oleh tentara Kolonial.

Piket Nol merupakan suatu lokasi tempat yang lokasinya termasuk dalam puncak tertingi di jalur selatan Jawa. Dari Piket Nol, apabila cuaca cerah kita bisa melihat pemandangan indah puncak Gunung Semeru, penambangan pasir, hijaunya sawah sawah penduduk Lumajang, bahkan konon kita bisa melihat ujung laut selatan.

Namun demikian, lokasi Jembatan Gladak Perak adalah lokasi pavorit bagi para biker Malang dan Lumajang untuk mengasah skill berkendara, karena lintasan yang berkelok dan menantang.

Untuk bisa mendapatkan pemandangan yang indah dari Jembatan Gladak Perak atau kawasan Piket Nol, sebaiknya memilih waktu saat langit sedang cerah, baik itu di pagi hari atau sore hari.

Hindari melewati jalur ini saat hujan lebat, oleh karena seringnya terjadi longsor di kawasan sekitar jembatan ini yang berada di lereng Semeru. Selain itu, jika belum terbiasa, hindari melalui jembatan atau jalur ini saat malam hari. Selamat berakhir pekan.

UPDATE TERBARU

Related news

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here