Kamera Flock jadi sorotan, tetapi jaringan ALPR swasta menyimpan miliaran foto kendaraan dan bisa dipakai insurer tanpa persetujuan pengemudi.
Kamera Flock kembali menjadi sorotan publik karena penggunaannya oleh kepolisian. Namun, perhatian itu justru menutupi jaringan kamera swasta yang lebih sulit diawasi.
Jaringan automated license plate recognition (ALPR) swasta memotret kendaraan di seluruh Amerika Serikat. Setiap tangkapan disimpan dalam basis data besar berisi pelat, foto, lokasi, dan stempel waktu.
Data itu kemudian dapat dijual atau dibuka untuk pelanggan, mulai dari lembaga pembiayaan dan perusahaan penarik kendaraan hingga perusahaan asuransi dan penegak hukum.
Perbedaannya, jaringan ALPR milik polisi sudah menuai banyak kontroversi. Sementara itu, melacak siapa yang mengakses data milik swasta dan untuk apa jauh lebih sulit dilakukan.
Skala Data yang Terus Bertambah
Salah satu pemain terbesar adalah Digital Recognition Network atau DRN.
Perusahaan ini kini berada di bawah Motorola Solutions setelah diakuisisi melalui pembelian VaaS International Holdings senilai 445 juta dolar AS pada 2019.
Saat itu, Motorola menyebut bisnis tersebut menyediakan data lokasi kendaraan bagi pelanggan keamanan publik dan komersial melalui kamera pembaca pelat tetap maupun bergerak.
Skalanya sangat besar.
Sebuah pengadilan banding California baru-baru ini mencatat bahwa per Mei 2024 sistem DRN berisi lebih dari 9 miliar gambar pelat nomor historis.
Catatan itu bukan sekadar miliaran foto pelat. Pengadilan menyebutnya sebagai rekaman berisi gambar pelat dan kendaraan beserta tanggal, waktu, dan lokasi setiap gambar diambil.
DRN menjual perangkat keras ALPR, termasuk kamera tetap dan sistem bergerak yang bisa dipasang pada kendaraan seperti truk derek.
Satu foto acak mungkin tidak banyak mengungkap, tetapi miliaran foto secara kolektif menjadi sesuatu yang berbeda.
DRN bukan satu-satunya.
MVTRAC, yang terutama melayani pemberi pinjaman otomotif dan industri penarikan kendaraan, mengklaim jaringannya mengumpulkan lebih dari 500 juta titik data LPR baru setiap bulan.
Pengumpulan itu dilakukan melalui lebih dari 600 afiliasi pemulihan di seluruh negeri. Flock Safety sendiri mewakili model yang berbeda.
Kamera Flock digunakan oleh bisnis swasta, lingkungan tempat tinggal, kompleks apartemen, sekolah, dan organisasi lain. Mereka punya opsi berbagi data kendaraan dengan penegak hukum.
Model bisnis tiap perusahaan tidak identik.
Namun, poin utamanya tetap sama: kamera yang dioperasikan swasta sudah mengumpulkan data besar tentang di mana kendaraan terlihat.
Data ALPR dan Kepentingan Asuransi
Tidak ada keraguan bahwa DRN menjual akses ke informasinya. Keputusan pengadilan banding federal 2015 yang melibatkan DRN menggambarkan bisnisnya dengan sangat gamblang.
Kamera yang dipasang di truk derek dan kendaraan lain otomatis memotret kendaraan yang dijumpai, merekam koordinat GPS, tanggal, dan waktu.
DRN menjual data pelat nomor itu kepada pelanggan, termasuk perusahaan pembiayaan mobil dan asuransi.
DRN masih secara terbuka mengiklankan produk asuransi yang dibangun di atas informasi tersebut.
Salah satunya bernama Garage Aware, yang dirancang untuk menentukan apakah kendaraan benar-benar disimpan di lokasi yang dilaporkan ke perusahaan asuransi.
Hal itu penting karena tarif asuransi bisa berbeda signifikan berdasarkan lokasi penyimpanan mobil. Sistem ini bahkan sangat rinci.
Dokumentasi pengembang DRN menyebut adanya sleep hour sightings. Sistem dapat membandingkan pengamatan itu dengan alamat yang diberikan pelanggan dan lokasi lain yang ditemukan dari datanya.
Sistem bahkan dapat memasukkan perbedaan premi asuransi antar kode pos.
Produk lain, Radius Response, memakai penampakan pelat untuk menentukan apakah kendaraan komersial rutin beroperasi di luar wilayah geografis yang dideklarasikan.
Ada pula Vehicle Sighting Search.
DRN mengiklankannya kepada perusahaan asuransi sebagai cara memetakan pergerakan kendaraan untuk menyelidiki klaim, mengidentifikasi pola mencurigakan, dan menegakkan kepatuhan polis.
Gambar juga bisa bernilai.
DRN menyebut perusahaan asuransi dapat memeriksanya untuk mencari tanda perusahaan, kotak peralatan, rak tangga, dan trailer yang mungkin menunjukkan seseorang memakai kendaraan pribadi untuk keperluan komersial.
Gambar historis juga dapat membantu menentukan apakah kerusakan sudah ada sebelum klaim asuransi diajukan. Perlu ditegaskan, ada aplikasi yang sepenuhnya sah untuk semua ini.
Seseorang yang mengklaim Mercedes-nya berada di pedesaan Iowa padahal setiap malam diparkir di pusat kota Chicago sedang menahan informasi yang sah dipakai perusahaan asuransi untuk menghitung risiko.
Hal yang sama berlaku bagi orang yang mengasuransikan truk kerja sebagai kendaraan pribadi. Masalahnya, teknologi yang mampu menemukan kecurangan itu juga mampu mengungkap jauh lebih banyak.
Pertimbangkan apa yang bisa diungkap dari penampakan berulang. Kendaraan yang konsisten terfoto di satu lokasi pada malam hari berpotensi menunjukkan tempat pemiliknya tinggal.
Kemunculan berulang di tempat lain pada hari kerja bisa menunjukkan tempat orang itu bekerja. Lokasi berulang lainnya dapat mulai mengungkap rutinitas, hubungan, dan kebiasaan.
