Stellantis mengaku tengah membenahi masalah kualitas lewat puluhan quality war room dan target 2028. Namun hasil studi JD Power masih menunjukkan ketertinggalan.
Stellantis menyatakan tengah berupaya keras membenahi masalah kualitas yang membelit sejumlah mereknya. CEO Antonio Filosa mengungkapkan perusahaan telah membentuk "quality war rooms" untuk menangani persoalan tersebut.
Filosa menargetkan Stellantis masuk kuartil teratas dalam hal kualitas pada 2028. Ia menyebut perbaikan saat ini berjalan sangat cepat.
Upaya ini bukan hal baru. Tahun lalu, Stellantis merekrut lebih dari 2.000 insinyur, banyak di antaranya ditugaskan khusus meningkatkan kualitas.
Kepada Auto News, Filosa menjelaskan pihaknya meluncurkan hampir 50 quality war room.
Di dalamnya, para insinyur, personel kualitas, tim manufaktur, dan insinyur kualitas pemasok bekerja bersama menangani komponen serta sistem yang dinilai penting untuk diperbaiki.
"Kami memperbaikinya dengan sangat, sangat, sangat cepat," ujarnya.
"Kami menargetkan pada 2028 masuk kuartil pertama dalam kualitas di semua segmen dan pasar tempat kami bersaing, dan kami akan mencapainya."
Hasil Studi JD Power Masih Jadi Sorotan
Studi Kualitas Awal AS terbaru dari JD Power menunjukkan merek-merek milik Stellantis masih tertinggal dari rata-rata industri.
Studi ini mengukur jumlah masalah per 100 kendaraan (PP100) dalam 90 hari pertama kepemilikan.
Rata-rata industri berada di 175 PP100. Jeep mencatat 182 PP100, Ram 222 PP100, dan Chrysler 229 PP100.
Sebagai pembanding, Ford memimpin di antara merek mainstream dengan 152 PP100. Genesis mencatat 151 PP100 dan Porsche 138 PP100.
Salah satu model yang menjadi sorotan adalah Dodge Charger Daytona versi listrik. Sejumlah laporan menyebut adanya cacat pada unit yang dikirim ke pelanggan.
Seorang pemilik bahkan menyebut Charger Daytona miliknya "praktis tidak berguna" pada tahun lalu.
Ia mengeluhkan masalah pada penyelarasan panel, gangguan pada bagasi dan pintu penumpang, serta persoalan kursi easy entry.
Perbaikan kualitas bukan perkara mudah. Hasil dari peningkatan selama pengembangan dan produksi kendaraan baru sering kali baru dirasakan pelanggan beberapa tahun kemudian.
Sebagian pihak menyalahkan masalah di Stellantis pada langkah pemangkasan biaya yang diterapkan mantan bos Carlos Tavares.
