Cox Automotive mengungkap krisis keterjangkauan mobil baru bukan semata karena harga, tapi juga biaya hidup lain. Namun, produsen seperti Honda dan Ford justru menghentikan model murah.
Cox Automotive menyebut masalah keterjangkauan kendaraan tidak hanya soal harga jual. Biaya hidup seperti perumahan, asuransi, dan bahan makanan juga naik signifikan.
Rata-rata harga transaksi mobil baru kini sekitar US$50.000 atau Rp 800 juta. Menurut Cox, konsumen tidak mengevaluasi pembelian mobil secara terpisah dari pengeluaran bulanan lainnya.
>>> Honda Pilot: SUV Tangguh dengan Mesin V6 dan Transmisi 10-Percepatan
Namun, analisis Cox mengabaikan satu fakta penting: industri otomotif perlahan meninggalkan segmen mobil murah.
Model seperti Honda Fit, Chevrolet Spark, Ford Fiesta, dan Nissan Versa hampir tidak ada lagi di pasaran.
>>> Harley-Davidson Pan America Limited: Petualang Sejati untuk Taman Nasional AS
Mobil Dasar Kini Setara Mewah
Erin Keating, analis eksekutif Cox Automotive, berpendapat mobil modern menawarkan nilai lebih. Fitur seperti pengereman darurat otomatis, kontrol jelajah adaptif, dan layar infotainment besar kini menjadi standar.
Sepuluh tahun lalu, teknologi tersebut hanya tersedia di trim premium. Cox mencontohkan Honda CR-V yang harganya naik hampir US$10.000, tetapi juga jauh lebih canggih.
Pada 2016, banyak pilihan mobil murah. Kini, varian entry-level pun diproduksi dalam jumlah terbatas karena dealer lebih suka menjual versi terisi penuh.
>>> Ford Escape Hybrid 2026: SUV Hybrid Amerika Paling Irit
Konsumen mungkin memilih mobil lebih mahal, tetapi itu karena pasar menawarkan sedikit alternatif murah.
Cox tidak sepenuhnya salah, namun industri harus mengakui perannya dalam mendorong harga ke segmen atas.
>>> Indian Challenger 112: Bagger Modern yang Membuat Pengendara Harley Melirik
Mobil bukan satu-satunya penyebab krisis keterjangkauan, tetapi juga bukan korban tak bersalah.
