Di lintasan sempit & berbatu, Diva Zahra juara Kelas Wanita & Juara 2 F3; Patricia Revalina posisi kedua; Larasati tunjuk kemajuan meski terkendala teknis. Simak analisis Rifat Sungkar soal kedalaman tim & strategi pembinaan jangka panjang.
Potensi Diva dipandang belum sampai batas puncaknya:
“Diva semakin menunjukkan diri sebagai pereli yang pantas diperhitungkan dalam kompetisi. Target dia akan semakin tinggi yaitu bisa juara, terutama di Kelas F3, kelas dengan tingkat kompetisi yang cukup ketat,” papar Rifat.

Penilaian menyeluruh terhadap dua pembalap lainnya tetap positif dan optimis:
“Patricia menunjukkan antusiasme yang bagus. Dia punya semangat untuk terus berkembang dan belajar. Sementara Larasati juga menunjukkan peningkatan yang cukup baik. Sayangnya, kali ini dia kembali terkendala masalah mekanis. Jadi, walaupun belum bisa berdiri di podium, saya melihat ada progress yang positif dari keduanya,” lanjut Rifat.
Filosofi kerja SWRT tetap kokoh: perlombaan bukan sekadar memburu hasil kilat, melainkan setiap putaran adalah sekolah hidup—mematangkan insting, memperkuat fondasi teknis, dan membangun karakter tahan banting.
Harapan besar terselip pula agar kisah sukses ini menjadi pemicu semangat bagi perempuan-perempuan Indonesia lain yang ingin melangkah ke sirkuit reli nasional. (*) [sny]
