Beratnya jalur transportasi yang harus dilewati juga menuntut Perum Damri untuk dapat menyiapkan armada yang mumpuni agar dapat melayani kebutuhan transportasi yang layak bagi masyarakat hingga ke pelosok.
Sementara itu, Ia juga mengeluhkan peran swasta yang masih sangat kecil terlebih jika dikaitkan dengan segi bisnis swasta lebih melihat kepada nilai untung rugi terhadap sebuah peluang. Namun kerjasama dengan pihak swasta lebih bersifat komersil.
Untuk penggunaan kendaraan yang berbasis listrik (kendaraan listrik-red), pihak Damri masih membatasi layanannya untuk daerah perkotaan. Ia mengakui masih terdapat banyak kendala terutama infrastruktur pendukung seperti charging station.
Namun, dibalik semua tantangan itu Damri masih sangat focus untuk mengembangkan angkutan jalan perintis yang menghubungkan perbatasan antar negara, daerah terisolir dan daerah belum berkembang agar mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut.
Selain itu, Damri juga masih memfokuskan diri untuk dapat menghubungkan wilayah perbatasan dengan wilayah perkotaan, serta terlayaninya wilayah perbatasan atau wilayah terisolir tersebut dengan wilayah perkotaan dengan tarif yang lebih terjangkau.

Trayek kendaraan angkutan perintis harus melewati tepian sungai untuk menjangkau masyarakat di pelosok|sny-otomotif1.com|Wibz/oto1
Kendala mendasar yang masih dihadapi oleh Damri adalah kondisi medan yang sulit untuk dilalui, dibeberapa wiliyah tertentu kendaaran perintis terkadang harus melintasi sungai dan jalan tanah yang belum tersentuh pembangunan.
Tak hanya itu, sulitnya mendapatkan BBM juga menjadi faktor kendala utama karena keterbatasan jumlah SPBU serta harga bahan bakar yang non subsidi. Umur teknis kendaraan perintis juga masih menjadi kendala bagi Damri yang rata-rata sdah melebihi usia 5 sampai 10 tahun.
