Selama pengujian oleh unit baterai VW PowerCo selama beberapa bulan, sel tersebut hanya mengalami kehilangan kapasitas penyimpanan sebesar 5% setelah lebih dari 1.000 siklus pengisian daya, setara dengan 500.000 kilometer di jalan.
VW mengatakan target industri pada fase pengembangan ini adalah 700 siklus pengisian daya dan hilangnya kapasitas maksimum 20%.
“Ini adalah hasil yang sangat menggembirakan, hasil akhir dari pengembangan ini adalah sel baterai yang mampu digunakan dalam jarak jauh, dapat diisi daya dengan sangat cepat, dan praktis tidak menua,” kata kepala PowerCo Frank Blome.
Di Asia, Toyota juga telah bermitra dengan perusahaan penyulingan minyak dan petrokimia Idemitsu Kosan Co untuk mengkomersialkan baterai solid-state segera setelah 2027, sementara anak perusahaan pembuat kendaraan listrik China, BYD Co, sedang membangun fasilitas baterai natrium-ion sebagai bagian dari usaha patungan di wilayah timur China.
Baterai Garam
Selain baterai solid-state, penelitian dan pengembangan baterai berbasis senyawa garam atau sodium juga sedang digadang-gadang berpotensi menggeser popularitas litium, yang sampai sekarang masih menjadi bahan utama paling banyak dipakai untuk penyimpanan energi dalam baterai EV.
Terlebih, sodium cenderung lebih mudah ditemukan jika ingin digunakan sebagai bahan baku baterai listrik. Tidak hanya itu, baterai berbahan baku senyawa garam ini memiliki harga yang lebih ekonomis dibandingkan dengan baterai litium yang juga membutuhkan mineral logam lain seperti kobalt dan nikel.
