Litium juga membutuhkan sirkuit pelindung untuk menjaga arus dan tegangan dalam standar dan batas yang aman.
Baterai litium juga cenderung berbiaya tinggi lantaran ongkos produksi dan bahan bakunya juga mahal, yang harus diekstraksi dari pertambangan mineral.
Sekadar catatan, pada November tahun lalu, Northvolt AB dari Swedia mengatakan telah membuat terobosan dalam teknologi ini, sedangkan pembuat kendaraan listrik asal China, BYD Co, juga menandatangani kesepakatan untuk membangun pabrik baterai sodium-ion senilai US$1,4 miliar.
Raksasa baterai China, CATL Co Ltd, pun telah mengatakan pada April bahwa baterai berbasis natrium atau senyawa garam akan mulai digunakan di beberapa kendaraan tahun ini.
“Ini adalah investasi yang serius. Hal ini meningkatkan kepercayaan diri mereka dengan mengatakan bahwa kami berada di sini untuk terus meningkatkan kapasitas guna mengkomersialkan teknologi ini,” kata Rory McNulty, analis riset senior di Benchmark Mineral Intelligence.
Jika produk natrium terbukti berhasil, baterai sodium-ion dapat membatasi konsumsi litium. Hal ini juga merupakan pengingat akan bahayanya upaya memperkirakan penggunaan logam dalam industri yang terus berkembang karena perusahaan mencari sel yang lebih murah dan efisien.
Dari riset BloombergNEF mengatakan natrium akan mengurangi sekitar 272.000 ton permintaan litium pada 2035, atau lebih dari 1 juta ton jika pasokan litium tidak dapat memenuhi penggunaan.
“Perubahan pada campuran logam dalam baterai telah mengubah prospek penawaran dan permintaan serta menurunkan harga [komoditas logam]. Kobalt dan nikel – yang beberapa tahun lalu terlihat menghadapi kekurangan jangka panjang – perkiraan permintaannya direvisi karena munculnya sel-sel yang tidak menggunakannya. Dan potensi perubahan harga yang besar terutama terlihat pada litium,” papar riset itu, akhir tahun lalu.
