Tesla mencatat pengiriman kuartal II terbanyak sepanjang sejarah, namun sahamnya justru anjlok 14,5% dan kehilangan Rp3.400 triliun dalam sehari.
Tesla berhasil mencatatkan pengiriman kuartal kedua terbaik sepanjang sejarah perusahaan. Namun, kabar baik itu tidak diikuti oleh kinerja saham yang justru mengalami penurunan terburuk.
Pada Rabu lalu, Tesla merilis laporan keuangan kuartal II. Keesokan harinya, harga saham perusahaan merosot 14,5 persen menjadi 319,69 dolar AS per lembar.
Penurunan tersebut menghapus nilai pasar Tesla sebesar 214,5 miliar dolar AS dalam satu hari perdagangan.
Menurut Wall Street Journal, ini adalah hari terburuk bagi saham Tesla sepanjang sejarah.
Jumlah kerugian itu bahkan melampaui kapitalisasi pasar seluruh produsen mobil lain saat ini. Kejatuhan ini terjadi meskipun Tesla mencatat rekor pengiriman kuartalan.
Rekor Pengiriman dan Penjualan
Selama April hingga Juni tahun ini, Tesla memproduksi 451.758 kendaraan dan mengirimkan 480.126 unit. Angka ini naik 25 persen dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu.
Peningkatan ini juga mengakhiri tren penurunan pengiriman kuartalan yang terjadi secara beruntun. Seperti biasa, Model 3 dan Model Y mendominasi penjualan.
Dari total 480.126 pengiriman, sebanyak 467.762 unit adalah Model 3 dan Model Y.
Sisanya sebanyak 12.364 unit terdiri dari Model S, Model X yang sudah dihentikan, Cybertruck, dan Semi.
Permintaan kuat terjadi di sejumlah negara Eropa seperti Portugal, Slovenia, dan Lituania. Selain itu, pasar Asia-Pasifik seperti Australia, Korea Selatan, Jepang, Taiwan, dan Thailand juga menunjukkan hasil positif.
Model Y L tiga baris yang baru dirilis diduga turut mendorong lonjakan permintaan. Namun, Tesla belum mengungkapkan berapa banyak unit yang dikirimkan selama kuartal tersebut.
Kenaikan harga bensin akibat perang AS dengan Iran juga mendorong lebih banyak pembeli Eropa beralih ke kendaraan listrik pada paruh pertama tahun ini.
Kinerja Keuangan dan Tantangan
Total pendapatan Tesla naik 26 persen dibandingkan tahun lalu menjadi 28,24 miliar dolar AS, melampaui ekspektasi.
Pendapatan dari segmen otomotif mencapai 20,52 miliar dolar AS, naik 23 persen.
Bisnis energi yang mencakup panel surya dan penyimpanan baterai menyumbang 3,14 miliar dolar AS, naik 13 persen.
Sementara pendapatan dari jasa dan lainnya naik 50 persen menjadi 4,58 miliar dolar AS.
Meskipun pendapatan meningkat, margin kotor turun dari 17,2 persen menjadi 16,8 persen. Laba bersih berdasarkan GAAP juga turun 5 persen menjadi 1,11 miliar dolar AS.
Analis sebelumnya memperkirakan margin kotor sebesar 19,4 persen. Penurunan laba disebabkan oleh beberapa faktor, terutama kenaikan biaya operasional yang lebih cepat dari pendapatan.
Investasi besar-besaran dalam kecerdasan buatan dan proyek riset dan pengembangan lainnya menjadi penyebab utama.
Selain itu, pendapatan dari kredit regulasi lebih rendah dibandingkan sebelumnya, dan harga jual rata-rata kendaraan listrik juga menurun.
