Tenaga puncak EV hanya bertahan sesaat. Faktor baterai, motor, dan pendingin membatasi output berkelanjutan. Simak penjelasannya.
Mobil listrik dengan tenaga 1.000 hp mungkin tidak selalu menghasilkan tenaga sebesar itu secara terus-menerus. Angka tersebut hanyalah puncak yang bisa dicapai dalam waktu singkat.
Menurut Auto Motor und Sport, tenaga puncak dan tenaga berkelanjutan adalah dua hal yang sangat berbeda.
Baterai, motor, inverter, dan sistem pendingin menentukan berapa lama tenaga maksimum bisa bertahan.
Contohnya, Porsche Taycan Turbo GT memiliki tenaga normal 778 hp, tetapi dengan Launch Control bisa melonjak hingga 1.019 hp.
Mode Overboost bahkan sempat membuka 1.093 hp selama dua detik saja.
Standar Pengukuran Tenaga EV
Porsche menyebut angka tenaga Taycan ditentukan menggunakan UN Global Technical Regulation No. 21 (GTR 21). Standar ini menetapkan metode pengukuran tenaga sistem gabungan untuk kendaraan elektrifikasi.
GTR 21 berguna untuk mobil dengan banyak motor karena tenaga total tidak bisa sekadar menjumlahkan tenaga maksimum masing-masing motor.
Namun, tenaga sistem GTR 21 bukanlah tenaga berkelanjutan.
Motor listrik bisa menyerap arus besar dan menghasilkan tenaga luar biasa dalam waktu singkat, tetapi panas menjadi pembatas utama.
Suhu baterai, tingkat pengisian, inverter, motor, dan pendingin juga berpengaruh.
Ada juga UN Regulation 85 (ECE R85) yang mengukur tenaga maksimum 30 menit dari drivetrain listrik. Angka ini menunjukkan output rata-rata yang bisa dipertahankan selama setengah jam.
Untuk Taycan Turbo GT, angka ECE R85 hanya 220 hp, sedangkan Hyundai Ioniq 5 N yang diklaim 641 hp tercatat 213 hp.
Angka ini yang muncul di dokumen registrasi Jerman.
Meski begitu, EV tidak akan tiba-tiba menjadi lamban setelah 30 menit. Pengukuran ini adalah standar regulasi, bukan prediksi pasti perilaku mobil di jalan.
Output berkelanjutan di dunia nyata bervariasi tergantung kecepatan, suhu lingkungan, tingkat baterai, dan manajemen termal.
Perbandingan dengan Mobil Bensin
Mobil bensin juga pernah bermain dengan angka tenaga.
Ford Fiesta ST generasi 2010-an memiliki tenaga 180 hp di Eropa, tetapi 197 hp di AS, padahal mesinnya sama.
Perbedaan itu karena Ford diizinkan mengiklankan angka overboost di AS, tetapi tidak di Eropa. Jadi, fenomena tenaga sementara bukan hal baru.
Bagi sebagian besar pengemudi, tenaga puncak adalah yang paling terasa, terutama saat akselerasi atau menyalip. Namun, tenaga berkelanjutan lebih relevan untuk perjalanan jauh atau menarik beban berat.
Pada akhirnya, tenaga puncak yang besar hanya bertahan sesaat, dan dalam berkendara normal, kita mungkin hanya menggunakan sekitar 30 hp.
Ini menunjukkan betapa sia-sianya perang tenaga.
