Jaguar Land Rover (JLR) berencana memangkas hingga 4.000 pekerjaan di Inggris dalam dua tahun ke depan sebagai bagian dari upaya penghematan biaya.
Jaguar Land Rover (JLR) dikabarkan akan memangkas hingga 4.000 pekerjaan di Inggris dalam dua tahun ke depan.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk menekan biaya setelah menghadapi berbagai tantangan.
Meski angka tersebut belum dikonfirmasi, JLR telah mengumumkan program pensiun dini sukarela yang menyasar karyawan bergaji dan manajemen.
Jika terealisasi, jumlah tersebut setara dengan sekitar 12 persen dari total tenaga kerja di Inggris yang berjumlah 34.000 orang.
Secara global, JLR mempekerjakan 44.000 orang, sehingga pemangkasan tersebut sekitar 9 persen dari total karyawan.
Perusahaan menargetkan penghematan sebesar £1,7 miliar (sekitar $2,3 miliar) dalam dua tahun ke depan.
Selain itu, JLR ingin menurunkan titik impas (break-even point) menjadi 300.000 kendaraan per tahun.
Untuk mencapai target ini, perusahaan akan menyederhanakan organisasi, meningkatkan efisiensi, dan membangun ketahanan yang lebih baik.
Penyebab Kesulitan JLR
JLR mengalami kerugian pada tahun fiskal yang berakhir Maret lalu.
Salah satu pemicunya adalah serangan siber pada September 2025 yang menyebabkan produksi terhenti selama beberapa minggu dan memangkas output hingga 27 persen.
Serangan tersebut diperkirakan merugikan perusahaan hingga £1,9 miliar (sekitar $2,6 miliar). Selain itu, penjualan global JLR turun 19 persen sepanjang tahun 2025.
Permintaan yang lemah di China juga menjadi masalah.
Penjualan JLR di China turun 24 persen pada kuartal yang berakhir Juni, karena konsumen China semakin memilih merek domestik.
Tarif AS yang lebih tinggi juga menambah beban biaya. Untuk meminimalkan dampaknya, JLR berencana bekerja sama dengan Stellantis untuk memproduksi Defender di Amerika Serikat.
Perusahaan juga tengah bersaing untuk mendapatkan kontrak pemerintah Inggris guna menggantikan Defender lama milik Angkatan Darat Inggris dengan model baru.
Kabar pemangkasan ini telah menarik perhatian pemerintah Inggris.
Menteri Bisnis Jonathan Reynolds dijadwalkan bertemu dengan JLR dan serikat pekerja Unite untuk membahas cara membatasi jumlah PHK.
Meski Reynolds telah menolak memberikan dana talangan, ia memberikan sinyal positif tentang "investasi jangka panjang" di masa depan perusahaan, seperti dilansir BBC News.
