Uni Eropa menyepakati kuota impor hibrida China untuk melindungi merek lokal dan menekan defisit dagang. Kesepakatan ini masih menunggu persetujuan negara anggota.
Uni Eropa resmi menyiapkan pembatasan ketat terhadap impor kendaraan hibrida asal China. Langkah ini diambil untuk melindungi produsen otomotif lokal dan menekan defisit perdagangan dengan China.
Kesepakatan dagang baru tersebut masih memerlukan persetujuan dari negara-negara anggota Uni Eropa.
Namun, arah kebijakannya sudah jelas: jumlah hibrida China yang masuk ke Eropa akan dipangkas lebih dari setengah dalam empat tahun ke depan.
Sejak Uni Eropa menerapkan tarif pada kendaraan listrik China, para produsen yang terdampak mengalihkan fokus ke hibrida. Mereka mengekspor hibrida secara besar-besaran ke Uni Eropa.
Data menunjukkan hibrida plug-in China menyumbang seperempat dari total unit yang terjual di Uni Eropa tahun ini.
Tanpa kuota, merek China diprediksi akan segera mendominasi pasar hibrida dan plug-in hybrid di kawasan tersebut.
Pada paruh pertama tahun ini, 25% dari seluruh plug-in hybrid yang dijual di Eropa berasal dari China. Angka itu melonjak dari hanya 2% pada 2024.
Kendaraan China juga menyumbang 14% dari total penjualan hibrida, naik dari 2% pada periode yang sama. Lonjakan ini memicu kekhawatiran bagi merek-merek Eropa.
Rincian Kuota dan Negosiasi
Bloomberg melaporkan kuota akan ditetapkan hanya 350.000 hibrida pada 2027, lalu naik 6% setiap tahun.
Sebagai perbandingan, sebanyak 800.000 hibrida China diperkirakan telah masuk ke Uni Eropa tahun ini.
Namun, Financial Times melaporkan bahwa tahun depan kuota sebenarnya dibatasi antara 500.000 hingga 700.000 kendaraan. Beberapa detail penting masih belum dikonfirmasi.
Pejabat Uni Eropa dan China menegosiasikan kesepakatan ini pada akhir pekan lalu untuk menghindari konflik dagang yang lebih besar.
China dilaporkan setuju untuk tidak membalas impor Uni Eropa sebagai imbalan atas kesepakatan tersebut.
Uni Eropa meyakini kesepakatan ini akan membantu mengurangi defisit perdagangan dengan China antara €10 miliar (US$11,2 miliar) hingga €14 miliar (US$15,6 miliar).
Yang tak kalah penting, kesepakatan ini menguntungkan produsen mobil Eropa. Popularitas kendaraan listrik dan hibrida China yang melonjak menciptakan kekacauan bagi beberapa merek, termasuk Volkswagen.
Volkswagen berencana memangkas 100.000 pekerjaan dalam beberapa tahun ke depan untuk mencoba mendapatkan kembali daya saingnya.
Perusahaan China tampaknya sudah memiliki solusi untuk kuota ini. Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa merek telah mendirikan basis manufaktur di seluruh Eropa.
Kuota hanya berdampak pada hibrida yang diekspor dari China, bukan yang dibangun oleh merek China di tanah Eropa.
BYD telah mendirikan pabrik di Hungaria.
Merek lain, termasuk Dongfeng, Chery, Geely, dan Leapmotor, semuanya sedang berupaya membangun mobil di Eropa.
