BYD mencapai nomor satu secara global tidak dengan tiba-tiba. BYD memulai bisnisnya sejak 30
tahun lalu, berkembang hingga mempunyai 70.000 teknisi riset dan pengembangan teknologi.
Riset dan pengembangan merupakan hal yang dilakukan BYD agar tetap mengikuti perkembangan jaman dan masyarakat. BYD menjawab kebutuhan pasar dengan riset terlebih dahulu, kemudian mengimplementasikan teknologi BYD yang sudah dikembangkan terhadap kebutuhan pasar tersebut seperti peningkatan gaya hidup yang lebih baik terhadap lingkungan dalam berkendara.
“Mengenai penetrasi lokal, BYD sudah memiliki pengalaman dari pasar China. Di pasar tersebut, dari 0-1% market share NEV di Cina mencapai 12 tahun, dari 2008-2019 dan tahun lalu angkanya menembus 38%. Tahun ini, industri melakukan penetrasi yang lebih agresif lagi untuk pasar NEV dan bahkan sampai ke pedesaan. Saat ini pasar otomotif China menguasai ⅔ dari keseluruhan pasar global NEV. Pengalaman inilah yang bisa memperlihatkan bagaimana masifnya penetrasi pasar otomotif China di skala global. Tahun lalu, pasar NEV di Indonesia mencapai 1,8%, maka kami percaya dengan hadirnya BYD melalui unit-unit yang kami pasarkan di Indonesia, akan mempercepat kenaikan penetrasi pasar di Indonesia,” tambah Eagle.

Optimisme BYD terhadap NEV menjadi semakin nyata dengan melakukan kolaborasi antar brand.
Adanya kolaborasi ini semakin membangkitkan pasar EV dan membuat pembagian pasar EV
semakin meningkat.
Sikap optimistik BYD terbayar dengan menjadi salah satu yang terbesar di beberapa negara. Seperti contoh tahun 2023 di Malaysia, pangsa pasar EV BYD sebesar 43 persen dengan penjualan sebanyak 4.400 unit dari dua model saja dari yang sebelumnya hanya 2.900 unit pada tahun 2022, pangsa pasar impor Jepang per Januari sebesar 20%, di Singapura BYD menempati posisi tiga di seluruh industri otomotif, bukan hanya NEV, dan di Hongkong market BYD berada di peringkat kedua.
