Program ini menjadi bagian dari inisiatif sosial Bosch yang telah berjalan sejak 2018, dengan total investasi lebih dari €85.000 atau sekitar Rp1,4 miliar. Khusus pada 2025, Bosch menyalurkan tambahan Rp144 juta untuk mendukung infrastruktur ketahanan pangan berkelanjutan di Nabire.
Langkah tersebut relevan mengingat Papua Tengah tercatat sebagai provinsi dengan prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan tertinggi di Indonesia.
Data menunjukkan Angka Kecukupan Energi masyarakat Nabire masih berada di 1.853 kilokalori per kapita per hari, di bawah standar nasional 2.100 kilokalori.
Pendidikan, Gizi, dan Kemandirian

Kebun Produktif untuk lahan pertanian dan pengelolaan hewan ternak.|sny-otomotif1.com|Foto: Dok. Wibz
Kebun pangan di SDN Muko tidak hanya menghasilkan sayur-mayur dan ternak, tetapi juga menjadi sarana pendidikan karakter dan kemandirian bagi siswa.
Hasil panen dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan gizi harian anak-anak asrama serta melibatkan masyarakat sekitar dalam pengelolaannya.
“Kini, lebih dari 220 siswa dari sekitar enam suku berbeda dapat bersekolah dengan fasilitas yang lebih layak. Program Bosch memberi dampak nyata, bukan hanya bagi pendidikan, tetapi juga kehidupan masyarakat,” ujar Agustina Taihuttu, Kepala SDN.
Program ini mengombinasikan praktik pertanian tradisional Papua dengan teknik modern, seperti penggunaan bibit unggul dan sistem irigasi sederhana, sehingga tetap relevan secara lokal sekaligus produktif.

Kebun Produktif untuk lahan pertanian dan pengelolaan hewan ternak.|sny-otomotif1.com|Foto: Dok. SonnyWibz
Bupati Nabire, Mesak Magai, menegaskan bahwa pemanfaatan potensi lokal menjadi kunci ketahanan pangan jangka panjang.
“Jika kita tekun mengolah kebun dan tanah, hasilnya akan menjamin keluarga hidup sehat dan sejahtera,” ungkapnya.
(*) [sny]