Toyota, Mazda, Kia, Lexus, dan Nissan memperketat aturan terhadap dealer yang bekerja sama dengan broker. Pelanggaran bisa berujung denda, pencabutan izin, hingga pembelian kembali kontrak.
Para kritikus menilai praktik broker merusak perjanjian waralaba, mendistorsi sistem alokasi, dan menciptakan persaingan tidak sehat.
Sementara pendukungnya berargumen broker memberikan pengalaman lebih mulus bagi konsumen dan menghindari negosiasi harga yang rumit.
Komisi Kendaraan Bermotor New Jersey menegaskan bahwa transaksi mobil baru melalui broker melanggar aturan negara bagian dan dapat mengancam lisensi dealer.
>>> BMW Hentikan Produksi iX1 karena Kekurangan Velg Standar
Regulator tampaknya semakin serius menegakkan hukum yang sebelumnya dianggap tidak aktif oleh banyak pengecer.
Dealer sendiri terbelah. Sebagian menginginkan penegakan lebih ketat karena pesaing dianggap memanfaatkan program insentif pabrikan melalui penjualan berbasis broker.
Sebagian lain meragukan konsistensi pabrikan dalam menerapkan kebijakan, mengingat volume penjualan yang tinggi tetap menguntungkan merek.
Tantangan praktis lainnya adalah membuktikan keterlibatan broker.
Tanpa dokumen yang secara eksplisit mengungkap pembayaran atau koordinasi pihak ketiga, broker bisa tetap tidak terlihat selama transaksi.
>>> Aston Martin DB9 Disulap dengan Mesin Corvette V8 dan Penyembur Api
Meski demikian, nada industri otomotif AS jelas berubah. Apa yang dulu ditoleransi secara diam-diam kini tampaknya mulai ditutup rapat.
