OTOMOTIF1.com

RUU Anti Mobil China Bisa Berdampak pada Penjualan Mercedes di AS

RUU Anti Mobil China Bisa Berdampak pada Penjualan Mercedes di AS
Pabrik Mercedes-Benz di Alabama, Amerika Serikat

RUU yang dirancang untuk membatasi pengaruh China di industri otomotif AS berpotensi menghambat penjualan Mercedes-Benz meskipun pabriknya berada di Amerika.

Ukuran teks

Mercedes-Benz berpotensi menjadi sasaran tidak langsung dari kebijakan Washington yang bertujuan membatasi pengaruh China di industri otomotif Amerika Serikat.

Sebuah RUU yang sedang dibahas di Kongres AS dirancang untuk menargetkan produsen mobil yang terkait dengan negara lawan.

>>> Penjualan EV China Mei 2026: Leapmotor Cetak Rekor, BYD Hentikan Penurunan

Mercedes bisa menjadi salah satu korban yang paling menonjol.

Masalahnya bukan di mana Mercedes memproduksi mobil. Perusahaan telah merakit kendaraan di Alabama selama puluhan tahun dan juga mengoperasikan pabrik van di South Carolina.

Kekhawatiran justru berpusat pada siapa yang memiliki saham perusahaan tersebut.

Kepemilikan Saham China Jadi Sorotan

Salah satu pemegang saham terbesar Mercedes adalah BAIC, produsen mobil milik negara China, yang memegang hampir 10 persen saham.

Pemegang saham besar lainnya adalah Li Shufu, ketua Geely, yang juga memiliki hampir 10 persen saham.

Total kepemilikan mereka mencapai sekitar 19,7 persen saham Mercedes. Lima tahun lalu, hal itu tidak menjadi masalah.

Namun, RUU Modernisasi Kendaraan Bermotor yang diusulkan mencakup bahasa yang menargetkan perusahaan dengan hubungan kepemilikan dengan pemerintah yang dianggap sebagai lawan asing.

>>> Miller Motorcars Ubah Porsche Carrera GT Jadi Supercar Retro JC9

China termasuk dalam daftar negara yang tercakup dalam undang-undang tersebut.

Tergantung pada bagaimana anggota parlemen menafsirkan RUU itu, Mercedes bisa termasuk dalam cakupannya meskipun merupakan merek Jerman dengan basis produksi besar di AS.

Halaman 1 dari 2: 1 2

Update Terbaru

Lihat semua