RUU yang dirancang untuk membatasi pengaruh China di industri otomotif AS berpotensi menghambat penjualan Mercedes-Benz meskipun pabriknya berada di Amerika.
Mercedes mempekerjakan sekitar 10.000 orang di seluruh negeri dan baru saja merayakan produksi model ke-5 juta di AS.
Perusahaan juga memindahkan produksi GLC ke Amerika.
Pengecualian Tidak Berlaku
RUU tersebut memang memberikan pengecualian bagi produsen mobil yang telah memproduksi kendaraan di Amerika selama bertahun-tahun.
Namun, satu bagian tampaknya menghapus perlindungan itu jika perusahaan memiliki kepemilikan langsung atau tidak langsung yang terkait dengan pemerintah negara lawan.
>>> Hongqi Guoya Jadi Mobil China Termahal di Rusia, Harganya Capai Rp6,9 Miliar
Di situlah keterlibatan BAIC menimbulkan pertanyaan.
Mercedes tidak panik, setidaknya tidak secara terbuka.
CEO Ola Källenius baru-baru ini mengatakan perusahaan dapat mengatasi masalah kepemilikan jika diperlukan dan yakin masalah apa pun dapat diselesaikan tanpa drama besar.
Perusahaan juga mengatakan sedang bekerja sama dengan pembuat kebijakan untuk lebih memahami proposal tersebut dan memastikan operasi AS tidak terganggu.
Tarikannya signifikan.
Mercedes menjual lebih dari 300.000 kendaraan penumpang di AS tahun lalu dan memiliki ambisi untuk mendorong angka itu lebih tinggi lagi.
Larangan penjualan masih jauh dari kenyataan, dan RUU tersebut masih bisa berubah secara substansial sebelum menjadi undang-undang.
>>> Mazda MX-5 Hadir dengan Warna Hijau Baru, Zinc Green Metallic
Namun, seluruh kisah ini menjadi pengingat betapa rumit dan saling terhubungnya industri otomotif modern.
