Ford dan Renault melihat range-extender EV sebagai opsi penting di Eropa. Teknologi ini sempat ditinggalkan setelah BMW menghentikan i3, namun kini kembali populer berkat merek China.
Ford dan Renault berniat menghidupkan kembali teknologi range-extender electric vehicle (EREV) yang sempat ditinggalkan industri.
Kedua raksasa otomotif asal Eropa itu kini melihat EREV sebagai opsi powertrain penting untuk pasar Eropa.
>>> Bovensiepen 05 GT: M5 Touring Bertenaga 790 HP Berbalut Body 5-Series
Teknologi EREV sebenarnya bukan hal baru. Mobil EREV massal pertama adalah Chevrolet Volt yang diluncurkan pada 2011, disusul BMW i3 beberapa tahun kemudian.
Namun, setelah BMW menghentikan i3 versi EREV dan beralih ke versi listrik murni, mobil dengan teknologi ini nyaris menghilang.
Produsen mobil saat itu lebih fokus pada hybrid dan baterai listrik.
EREV kembali populer saat merek China membawanya ke pasar mainstream selama pandemi. Kini, merek-merek tradisional mulai melihat potensinya.
>>> Geely Galaxy TT Terungkap: Jarak Tempuh 725 km dengan Motor 245 kW
Ford dan Renault Dukung EREV
Menurut kepala Ford Eropa, Jim Baumbick, kendaraan ini bisa membawa perubahan fundamental di pasar lokal.
Ford sedang mengerjakan Bronco versi Eropa dan merencanakan beberapa model EREV, plug-in hybrid, dan hybrid tradisional.
“Kendaraan listrik tentu bagian dari portofolio kami, namun spektrum elektrifikasi yang lebih luas—dari full hybrid hingga plug-in hybrid dan EREV generasi berikutnya—akan memainkan peran yang sangat signifikan,” ujar Baumbick kepada Automobilwoche.
Ford sudah memperkenalkan Bronco versi EREV di China tahun lalu, dengan mesin turbo 1,5 liter dan baterai 44 kWh.
