Ford dan Renault melihat range-extender EV sebagai opsi penting di Eropa. Teknologi ini sempat ditinggalkan setelah BMW menghentikan i3, namun kini kembali populer berkat merek China.
Belum jelas apakah powertrain ini akan diimpor ke Eropa atau dikembangkan yang baru.
>>> Hyundai Ioniq V Fastback Resmi Meluncur, Baterai 66,8 kWh dan Jarak Tempuh 620 km
Salah satu kemungkinan adalah memperdalam kemitraan dengan Renault, yang juga berinvestasi besar di EREV.
CEO Renault François Provost mengatakan EREV mereka bisa menawarkan jangkauan listrik hingga 200 km dan cocok untuk kendaraan besar.
“Untuk kendaraan besar, masuk akal menggunakan plug-in hybrid atau range extender, karena sangat tidak masuk akal memiliki mobil 2,5 atau 2,7 ton melintas di pusat kota setiap hari,” katanya.
Masih ada pekerjaan rumah untuk meyakinkan pembeli dan memastikan pemilik EREV menggunakannya dengan benar.
>>> Chery-JLR Rilis Foto Resmi Freelander 8 First Edition
Baumbick berpendapat Eropa perlu lebih baik dalam mempromosikan pengisian daya untuk PHEV dan EREV, karena studi menunjukkan banyak pemilik tidak mengisi ulang dan lebih mengandalkan mesin pembakaran.
