China menargetkan 40% truk berat baru adalah kendaraan energi baru pada 2030, dengan armada lebih dari 1,6 juta unit. Kebijakan ini didukung 11 kementerian.
Sebelas kementerian dan lembaga China, termasuk Kementerian Perhubungan dan Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional, baru saja merilis rencana implementasi untuk mempercepat adopsi truk berat energi baru (NE-HDT).
Target ambisius ditetapkan: pada 2030, penetrasi pasar NE-HDT di China diperkirakan mencapai 40%, dengan total armada lebih dari 1,6 juta unit, atau sekitar 20% dari seluruh truk berat.
>>> BAIC Arcfox Luncurkan Beta T1 Baru, Pesaing Geely Xingyuan Mulai Rp100 Jutaan
Pilar Dekarbonisasi Sektor Transportasi
Sektor transportasi menyumbang sekitar 10% emisi karbon nasional China. Dari jumlah tersebut, truk berat bertanggung jawab atas sekitar 40% emisi transportasi.
Pejabat menekankan bahwa peningkatan NE-HDT—kendaraan berat dengan bobot kotor 12 ton atau lebih yang digerakkan oleh energi baru—sangat penting untuk mengurangi polutan seperti nitrogen oksida dan partikel halus.
Keunggulan Ekonomi Dorong Adopsi
Meskipun harga beli awal truk listrik masih lebih tinggi dibandingkan truk bahan bakar tradisional, total biaya kepemilikan (TCO) jauh lebih rendah.
Menurut CIC Consulting, TCO tahunan untuk truk berat berbahan bakar pada 2024 adalah 797.000 yuan (117.200 dolar AS), sedangkan model listrik hanya 620.000 yuan (91.200 dolar AS).
Keunggulan ekonomi ini mendorong pertumbuhan pesat.
Liang Linhe, direktur Sany Group dan ketua Sany Heavy Truck, mencatat bahwa penetrasi pasar truk berat energi baru melonjak dari hanya 0,9% pada 2021 menjadi 28,9% pada 2025.
