Suzuki dikenal sebagai merek motor yang menawarkan nilai lebih dengan harga terjangkau. Simak strategi reuse mesin lama yang membuat motor Suzuki tetap kompetitif.
Suzuki telah membangun reputasi sebagai merek yang memberikan lebih banyak nilai untuk setiap rupiah yang dikeluarkan.
Ketika pabrikan lain menawarkan motor dengan harga tertentu, Suzuki selalu berusaha menawarkan harga yang lebih murah, bahkan bisa ribuan dolar lebih rendah.
>>> 5 Mobil Sport yang Nilai Jualnya Lebih Baik dari Porsche Taycan
Strategi ini terlihat jelas di seluruh lini produk Suzuki, mulai dari motor berkapasitas menengah hingga sport-tourer liter-class. Hampir semua motor Suzuki menjadi pilihan paling hemat di kelasnya.
Strategi Reuse, Repurpose, dan Recycle ala Suzuki
Pada akhir 1990-an dan awal 2000-an, Suzuki meluncurkan banyak motor sukses. Hayabusa lahir pada 1999 dan langsung dinobatkan sebagai motor produksi tercepat.
Di tahun yang sama, SV650 juga diluncurkan dan kini memiliki basis penggemar yang besar.
Tidak lama kemudian, GSX-R1000 generasi K5 (2005) mendapat pujian kritis. Hayabusa kini sudah memasuki generasi ketiga, tetapi mesinnya masih menggunakan arsitektur dasar yang sama dengan versi aslinya.
Hal serupa berlaku untuk SV650 dan V-Strom 650 yang menggunakan V-twin yang sama sejak awal.
V-Strom 1050 menggunakan mesin superbike daur ulang dari tahun 1990-an, sementara DR650 dual-sport tidak pernah diperbarui sejak 1996.
Strategi mempertahankan powertrain lama ini menghemat biaya riset dan pengembangan, dan penghematan itu diteruskan ke konsumen dalam bentuk harga yang lebih murah.
