Studi Warrantywise menunjukkan bahwa kerusakan pada mobil listrik bekas paling sering terjadi pada sistem kelistrikan dan suspensi, bukan baterai tegangan tinggi. Biaya perbaikan on-board charger bisa mencapai Rp 230 juta.
Jika Anda berencana membeli mobil listrik bekas, kekhawatiran terbesar biasanya adalah kondisi baterai tegangan tinggi. Namun, data klaim garansi justru menunjukkan hal lain.
Menurut analisis terbaru dari Warrantywise di Inggris, masalah yang paling sering dikeluhkan pemilik mobil listrik justru mirip dengan mobil konvensional: gangguan kelistrikan, keausan suspensi, dan aki 12 volt.
Gangguan Kelistrikan Mendominasi
Kerusakan pada sensor dan sistem central locking menjadi yang paling umum. Rata-rata biaya perbaikannya mencapai £810-900 (sekitar Rp 17-19 juta).
Namun, beberapa klaim individu tercatat melebihi £3.000 (Rp 64 juta) dan bahkan £4.000 (Rp 85 juta).
Komponen spesifik EV yang masuk lima besar adalah on-board charger. Rata-rata biaya perbaikannya mencapai £2.160 (Rp 46 juta).
Klaim termahal untuk komponen ini mencapai £10.455 (Rp 224 juta), menunjukkan bahwa meskipun jarang terjadi, biayanya bisa sangat mahal.
Suspensi Juga Rentan
Komponen suspensi, terutama wishbones, juga sering bermasalah. Rata-rata biaya perbaikan melebihi £1.200 (Rp 25 juta).
Klaim tertinggi untuk suspensi mencapai £4.120 (Rp 88 juta). Bobot mobil listrik yang lebih berat membuat suspensi bekerja lebih keras.
Baterai Tegangan Tinggi Jarang Bermasalah
Baterai traksi tegangan tinggi yang sering dikhawatirkan tidak masuk dalam lima besar kerusakan. Ini menunjukkan bahwa baterai EV lebih tangguh dari perkiraan banyak orang.
Selain itu, baterai biasanya memiliki masa garansi pabrik yang lebih panjang. Ketika kerusakan terjadi, rata-rata biaya perbaikannya lebih dari £6.400 (Rp 137 juta).
Data Warrantywise juga menunjukkan rata-rata nilai klaim perbaikan EV naik 10,7 persen antara 2024 dan 2025.
Kenaikan ini lebih disebabkan oleh inflasi dan biaya tenaga kerja, bukan karena penurunan keandalan.
Perlu diingat, data ini hanya mencakup kendaraan yang terdaftar dalam program garansi tersebut.
Meski demikian, temuan ini menunjukkan bahwa baterai mahal yang sering dibicarakan ternyata bukanlah 'bom waktu' biaya perbaikan seperti yang dibayangkan.
