Lamborghini mengalami penurunan pengiriman 4,6% pada paruh pertama 2026, namun pendapatan naik 7,4% menjadi €1,74 miliar.
Lamborghini melaporkan hasil keuangan paruh pertama 2026.
Pengiriman kendaraan turun 4,6 persen, tetapi pendapatan justru meningkat 7,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Sepanjang Januari hingga Juni, pabrikan asal Italia ini mengirim 5.422 unit kendaraan. Angka ini lebih rendah dari periode yang sama pada 2025.
Penurunan ini dipengaruhi oleh tarif di Amerika Serikat, perlambatan pasar China, dan konflik di Timur Tengah. Selain itu, ketidakpastian yang meningkat di pasar Eropa juga berdampak pada penjualan.
Meski demikian, Lamborghini berhasil membukukan pendapatan sebesar €1,74 miliar atau sekitar $2 miliar. Jumlah ini 7,4 persen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba operasional total mencapai €395 juta atau sekitar $455 juta. Capaian ini menunjukkan kinerja keuangan yang solid di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu.
Peluncuran Temerario dan Urus SE Performante
Pengiriman model baru Temerario telah dimulai pada kuartal pertama. Namun, Lamborghini belum mengungkapkan jumlah unit yang terjual atau dikirim.
Temerario merupakan penerus Huracan dan akan bersaing dengan Ferrari 296 GTB. Pabrikan berharap model ini mampu membangun warisan seperti pendahulunya, Gallardo dan Huracan.
Memasuki paruh kedua, Lamborghini akan meluncurkan Urus SE Performante sebagai model andalan.
SUV ini diperkenalkan pada awal Juli dan menggunakan sistem plug-in hybrid yang sama dengan Urus SE reguler.
Urus SE Performante mengandalkan mesin V8 4.0 liter twin-turbo yang dipadukan dengan motor listrik di transmisi otomatis delapan percepatan.
Total tenaga yang dihasilkan mencapai 801 hp dan torsi 737 lb-ft (1.000 Nm).
Dengan tenaga tersebut, mobil ini mampu berakselerasi dari 0-100 km/jam dalam 3,3 detik. Kecepatan tertingginya mencapai 312 km/jam.
Manajemen Lamborghini tetap optimistis.
Paolo Poma, Managing Director dan Chief Financial Officer, menyatakan bahwa hasil solid diraih meskipun lingkungan ekonomi makro masih bergejolak dan penuh tantangan.
Dampak negatif tarif AS yang lebih tinggi sejak 2025 serta pergerakan nilai tukar yang tidak menguntungkan memang memengaruhi kinerja.
Namun, hal itu tidak menggerus posisi kuat merek di sektor kemewahan.
