Selain bertujuan untuk mencapai kesepakatan bersama, rangkaian diskusi ini juga diikuti sesi demonstrasi sepeda motor yang telah menggunakan teknologi ABS. Pengendara dapat mencoba secara langsung perbedaan bagaimana sepeda motor non-ABS dan ber-ABS bermanuver saat harus melakukan pengereman tiba-tiba di kondisi jalanan yang licin maupun tidak rata.
“Teknologi seperti ini penting untuk terus didorong pada sepeda motor yang wajib secara regulasi untuk melindungi masyarakat luas yang sebagian besar mobilitasnya mengendarai sepeda motor. Dalam hal ini fitur ABS yang terbukti membuat ban tidak selip saat pengereman mendadak dan menghindari risiko jatuh. Kami berharap pemerintah dapat melihat teknologi ini sebagai sebuah kebutuhan preventif terhadap risiko kecelakaan pengendara roda dua di jalan raya,” jelas Joel D Mastana yag juga mejadi narasumber dan pelaku demonstrasi, Direktur Mobilitas Sepeda Motor Ikatan Motor Indonesia (IMI).
“Implementasi sistem ABS adalah solusi darurat demi menekan tingginya kasus kecelakaan sepeda motor di Indonesia. ABS mampu mencegah penguncian roda saat pengereman mendadak dan menjaga stabilitas sepeda motor sehingga potensi kecelakaan dapat dihindari. Apalagi faktor human error masih menjadi penyebab utama setiap kasus kecelakaan di jalan raya,” tegas Technical Committee ASEAN NCAP, Adrianto Wiyono.
Dengan demikian, pentingnya kolaborasi dari semua pemangku kepentingan di jalan raya untuk mendorong inovasi dan teknologi seperti fitur ABS yang mendukung keselamatan berkendara.
Selain itu, aksi ini juga perlu dilakukan sejalan dengan penguatan dari sisi regulasi dan peningkatan edukasi bagi seluruh pengendara. Ini merupakan kontribusi nyata dalam memenuhi mandat Decade of Action for Road Safety (Dekade Aksi Keselamatan Jalan) untuk menurunkan angka kecelakaan dan fatalitas hingga 50 persen pada tahun 2030.
