OTOMOTIF1.com - Mobil dimanfaatkan banyak orang untuk membantu mobilitas. Karena
itu, banyak orang memikirkan resale value alias harga atau nilai jual kembali kendaraan yang
dimiliki dibandingkan membelinya dengan prinsip value for money.
Meskipun produk Jepang merajai pasar Indonesia, kini banyak pelaku industri otomotif asal
Korea dan Cina yang telah berhasil merebut hati konsumen di Tanah Air. Mereka hadir dengan
produk yang mampu bersaing dengan kendaraan asal Jepang.
Kehadiran para pelaku industri otomotif tersebut membuat persaingan pasar kendaraan jenis
sport utility vehicle (SUV) hingga multipurpose vehicle (MPV) kini semakin ketat. Termasuk, di industri mobil listrik.

Para pelaku industri otomotif tersebut menawarkan tampilan yang modern, jaminan layanan
purna jual dan harga “miring” sebagai senjata utamanya. Bahkan, mereka sudah melengkapi
sejumlah fasilitas premium yang sebelumnya hanya ada di kendaraan kelas premium.
Sebelum memutuskan membeli mobil dengan prinsip value for money atau untuk bisa dijual
kembali, CEO dan Co-Founder Lifepal Benny Fajarai mengungkapkan perbedaannya dan hal
penting yang harus diperhatikan.
Membeli Mobil dengan Prinsip Value for Money
Konsumen membeli kendaraan dengan prinsip value for money lebih kepada sugesti atau
kebanggaan memakai produk tertentu dengan alasan tertentu.
Sebab, prinsip value for money merupakan upaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat
dengan tepat dan sesuai sasaran. Dengan begitu, tercipta mutu pelayanan yang baik dengan
pemanfaatan sumber daya yang ekonomis dan efisien.
