Adapun prinsip ekonomi, efisien dan efektifitas menjadi indikator dalam menjalankan prinsip
value for money. Dalam otomotif, ekonomi bisa diartikan sebagai output dan input dalam satuan moneter.
Harga mobil disesuaikan dengan fasilitas atau fitur yang ada, pajak hingga komponen lain
sebagai penentu nilai jual kendaraan tersebut. Senmentara itu, efisien adalah biaya operasional rendah dengan nilai manfaat tinggi, termasuk konsumsi BBM yang tidak boros dan suku cadangnya mudah ditemukan.
Sementara itu, efektivitas merupakan pencapaian dari target yang ditetapkan. Karena itu,
prinsip tersebut banyak diterapkan pembeli kendaraan untuk kepentingan bisnis.
Lain halnya untuk kepentingan pribadi. Meski sudah lebih “melek” pada value for money, masih
banyak masyarakat Indonesia yang lebih memikirkan harga jual kembali yang tidak turun untuk
memiliki kendaraan.
Membeli Mobil dengan Prinsip Jual Kembali
Sebelum membeli mobil, Anda tentu tahu kalau produk satu ini mengalami depresiasi alias
penyusutan harga. Penurunan harga kendaraan terjadi karena pemakaian rutin yang dilakukan
pemiliknya.
Meski begitu, harga mobil buatan Jepang tidak mengalami depresiasi yang tinggi dibandingkan
kendaraan buatan Korea atau Cina. Ada beragam faktor yang menjadi penyebabnya, salah
satunya karena kurangnya peminat.
Harga jual mobil buatan Jepang seperti Honda disebut lebih stabil dan banyak dicari konsumen
dibandingkan kendaraan buatan non-Jepang. Meski begitu, tidak semua model mengalami
penurunan harga drastis. Biasanya harga mobil bekas tersebut jatuh karena kurang laris di
pasaran.
