Kedua pilar ini dikembangkan dengan tujuan agar setiap negara dimana Nissan dipasarkan, dapat mempercepat proses elektrifikasi kendaraan dan berkontribusi aktif dalam mengurangi dampak gas rumah kaca.
Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi dan perkembangan infrastruktur di masing-masing negara, tanpa harus bergantung pada ketersediaan SPKLU di seluruh wilayah.
STRATEGI NISSAN DI INDONESIA: TEKNOLOGI NISSAN e-POWER
Indonesia dihadapkan pada dua aspek yang menyebabkan percepatan elektrifikasi kendaraan menjadi langkah yang mendesak.
Di satu sisi, Indonesia telah berkomitmen dalam pertemuan Paris pada tahun 2015 untuk mengurangi emisi CO2 sebesar 29% pada tahun 2030, yang hanya tinggal 5 tahun terhitung hari ini.
Aspek yang kedua adalah keberlangsungan pasokan bahan bakar minyak. Indonesia telah menjadi net oil importer country sejak tahun 2004, dimana terdapat kecenderungan harga BBM yang terus melambung.
Teknologi e-POWER yang dikembangkan Nissan, merupakan jawaban yang tepat, ketika infrastruktur kendaraan BEV yang diperlukan belum menjangkau ke seluruh pelosok tanah air.
Teknologi ini menggabungkan keunggulan kendaraan bermotor listrik dengan mesin bensin yang hanya berfungsi sebagai penyuplai daya listrik.
Dengan mengedepankan kenyamanan dan kepraktisan layaknya sebuah BEV, pengguna Nissan e-POWER akan bebas dari rasa khawatir terkait pengisian daya.
Dengan demikian, percepatan adopsi teknologi kendaraan listrik dapat segera terealisasi, tanpa harus menunggu tersedianya SPKLU dalam skala yang lebih luas.
