Studi terbaru menunjukkan mobil listrik China di Eropa mengalami depresiasi dua kali lebih cepat dari rata-rata industri, merugikan pemilik dan perusahaan leasing.
Kekhawatiran tentang servis, suku cadang, dan jaringan dealer terus membuat pembeli bekas berpikir dua kali.
Bukan Hanya Mobil Listrik China yang Terpuruk
Namun, bukan hanya merek China yang merasakan tekanan.
Pasar EV Inggris juga melihat nilai residu turun di semua lini, sebagian karena masuknya mobil dari China, seperti dilaporkan Financial Times baru-baru ini.
>>> Maextro Siapkan SUV Mewah Saingan Cullinan, Harga Setara BMW iX
Mengutip angka dari Indicata, disebutkan bahwa rata-rata EV berusia tiga tahun per bulan lalu hanya bernilai 38 persen dari harga aslinya, dibandingkan dengan 46 persen di Jerman, Prancis, dan Spanyol.
Sebaliknya, mobil bensin seumur di Inggris mempertahankan 45 persen nilainya, dan hybrid 51 persen.
Produsen mobil berada di bawah tekanan besar untuk meningkatkan penjualan EV, sehingga banyak yang memberikan diskon besar-besaran pada model baru untuk memenuhi target pemerintah Inggris.
Hal ini mendorong mobil China, Jaecoo 7, ke puncak grafik penjualan Inggris untuk pertama kalinya, tetapi membuat EV yang hampir baru terlihat terlalu mahal di samping mobil baru pabrik yang mendapat insentif besar.
Ironisnya, kemajuan teknologi yang pesat juga merusak nilai.
Merek China khususnya merilis pembaruan dengan kecepatan tinggi, sehingga EV yang canggih hari ini bisa terasa ketinggalan zaman berbulan-bulan kemudian.
>>> Masalah Terbesar Mazda Bukan Mobilnya, Tapi Identitas Merek yang Buram
Bagus untuk inovasi, tetapi buruk jika Anda mencoba melindungi nilai jual kembali.
