otomotif1.com

Utang Mobil AS Capai Rp27.000 Triliun, Repo Kembali ke Level Resesi

Mobil yang disita karena gagal bayar utang di Amerika Serikat
Mobil yang disita karena gagal bayar utang di Amerika Serikat

Utang mobil di AS mencapai $1,7 triliun, memicu gelombang penarikan kendaraan (repo) yang mendekati level Resesi Besar. Beban pembayaran bulanan yang tinggi menjadi penyebab utama.

Ukuran teks

Penarikan kendaraan (repossession) di Amerika Serikat kembali mendekati level yang terakhir terlihat selama Resesi Besar 2007-2009. Hal ini dipicu oleh utang mobil yang mencapai sekitar $1,7 triliun.

Data menunjukkan bahwa tren ini lebih disebabkan oleh masalah keterjangkauan (affordability) daripada perilaku peminjam yang ceroboh.

Laporan dari The New Yorker mengungkap banyak kisah dramatis di balik fenomena ini.

Beban Pembayaran Bulanan Makin Berat

Hanya dua dari sepuluh mobil baru dan empat dari sepuluh mobil bekas dibeli secara tunai. Sisanya dibiayai melalui kredit.

Harga rata-rata mobil baru tahun lalu menembus $50.000.

Sejak 2019, rata-rata pembayaran bulanan untuk mobil naik sekitar $300. Sekitar satu dari lima pembeli mobil baru kini memiliki cicilan bulanan di atas $1.000.

Lender menawarkan tenor pinjaman hingga 96 bulan. Pinjaman delapan tahun yang dulu jarang kini menjadi umum karena konsumen berusaha membuat mobil mahal tampak terjangkau.

Namun, memperpanjang tenor tidak menurunkan biaya kepemilikan; justru sering kali meningkatkannya. Premi asuransi, biaya perbaikan, harga suku cadang, dan harga bahan bakar yang fluktuatif turut memperberat beban.

Akibat perang di Iran, harga bensin di beberapa daerah sempat menembus $5 per galon, sementara solar lebih mahal lagi.

Ketika anggaran rumah tangga mengetat, peminjam yang semula lolos seleksi kredit pun bisa kesulitan.

Peminjam Subprime Paling Terpukul

Tingkat kredit macet di kalangan peminjam subprime mencapai level tertinggi sejak 2010. Banyak dari mereka bergantung pada perusahaan pembiayaan independen atau dealer buy-here-pay-here yang menerapkan bunga tinggi.

Lender ini sering mewajibkan pembayaran mingguan atau dua kali sebulan. Dalam beberapa kasus, satu kali pembayaran terlewat saja bisa memicu perintah penarikan kendaraan.

Bagi banyak rumah tangga, kehilangan mobil berarti kehilangan akses ke pekerjaan, pendidikan, layanan kesehatan, dan kebutuhan sehari-hari.

Seperti dicatat National Consumer Law Center, "bagi mereka yang berpenghasilan rendah atau tinggal di daerah pedesaan, kelangsungan hidup sering bergantung pada ketersediaan mobil."

Pembeli yang ingin menghindari repo semakin kehabisan pilihan. Sampai keterjangkauan membaik, konsumen harus menyesuaikan diri karena lender dan produsen mobil tampaknya belum akan mengubah pasar.

Update Terbaru

Lihat semua