Damon Motors, startup motor listrik asal Kanada, gagal mewujudkan HyperSport yang dijanjikan dengan teknologi canggih. Ambisi besar tanpa produksi nyata menjadi penyebab kehancurannya.
Damon Motors, startup motor listrik asal Vancouver, Kanada, didirikan pada 2017 oleh Jay Giraud dan Dominique Kwong.
Mereka memperkenalkan HyperSport, motor superbike listrik yang menjanjikan teknologi mutakhir seperti sistem keselamatan CoPilot, ergonomi yang dapat diatur secara elektronik (Shift), dan platform baterai terintegrasi (HyperDrive).
>>> Teknologi Super AI Cockpit Hadir di OMODA O4
Janji utama Damon adalah "200-200-200": 200 tenaga kuda, jarak tempuh 200 mil, dan kecepatan tertinggi 200 mil per jam.
Angka-angka itu membuat HyperSport terdengar seperti superbike listrik tanpa kompromi.
Debut di CES dan Harapan Besar
Ketika HyperSport debut di CES pada Januari 2020, desainnya yang ramping dan teknologi keselamatan membuatnya tampak siap produksi.
Reservasi, pendanaan, dan liputan positif segera mengalir. Damon mengklaim lebih dari 3.000 reservasi senilai lebih dari 100 juta dolar Kanada.
Rencana pembangunan pabrik seluas 110.000 kaki persegi di British Columbia semakin memperkuat kesan bahwa Damon akan menjadi pengganggu industri.
Namun, kenyataannya berbeda.
Ambisi yang Menjadi Beban
Damon tidak hanya mengerjakan satu masalah sulit.
>>> Hyundai Ioniq 5 2026: Review Jarak Tempuh, Desain Retro, dan Pengisian Daya
Mereka mengembangkan platform baterai proprietary, perangkat lunak canggih, sistem radar dan kamera, ergonomi yang dapat diatur, performa superbike, dan operasi manufaktur baru secara bersamaan.
Pandemi COVID-19 dan gangguan rantai pasok memperburuk keadaan.
