BMW dilaporkan akan memangkas sekitar 8.000 posisi global, mayoritas di Jerman, tanpa menyentuh pekerja pabrik. Langkah ini sebagai respons terhadap tekanan pasar China, tarif AS, dan biaya produksi tinggi.
Tekanan dari China dan Tarif AS
Di balik penghematan ini ada kumpulan masalah yang semakin tidak nyaman.
Penjualan BMW di China turun tajam, dengan pabrikan dalam negeri seperti BYD meningkatkan tekanan, terutama di kendaraan listrik.
Merek-merek China itu tidak tinggal di dalam negeri. Kehadiran mereka yang semakin besar di Eropa berarti BMW kini harus bersaing di wilayahnya sendiri.
>>> Motor Viper V10 Buatan Allen Millyard Terjual di Lelang
Menambah penderitaan BMW adalah tarif AS, biaya produksi Eropa yang mahal, dan ketidakpastian geopolitik.
BMW menurunkan prospek labanya pada Juni dan CEO baru Milan Nedeljkovic kemudian berjanji mempercepat upaya pemotongan biaya yang sudah ada.
Nedeljkovic mengatakan kepada karyawan bahwa aturan yang mengatur industri telah berubah secara substansial, demikian pula fondasi yang menopang bisnis BMW, menurut Reuters.
Ia memperingatkan bahwa masa sulit akan datang, namun restrukturisasi diperlukan untuk meningkatkan profitabilitas.
BMW tidak sendirian.
>>> UD Trucks Luncurkan Quester MY 2026 di GIIAS
Volkswagen dan Mercedes telah menyetujui rencana yang melibatkan puluhan ribu pengurangan pekerjaan, sementara Porsche baru-baru ini memperluas upaya restrukturisasinya yang akan membuat 6.000 pekerja tambahan mencari pekerjaan baru di atas 3.500 yang sudah ditargetkan.
