Toyota, Mazda, Kia, Lexus, dan Nissan memperketat aturan terhadap dealer yang bekerja sama dengan broker. Pelanggaran bisa berujung denda, pencabutan izin, hingga pembelian kembali kontrak.
Toyota, Kia, Mazda, Lexus, dan Nissan kini bergerak agresif menindak transaksi kendaraan yang melibatkan broker, terutama di New Jersey.
Langkah ini dilakukan setelah praktik perantara kendaraan yang selama ini beroperasi secara diam-diam mulai mendapat sorotan tajam dari regulator dan perusahaan pembiayaan.
Para dealer di New Jersey menghadapi risiko denda, pencabutan lisensi, dan kewajiban membeli kembali kontrak jika terbukti bekerja sama dengan broker.
Sebuah undang-undang negara bagian yang selama ini sebagian besar diabaikan melarang dealer bekerja sama dengan perantara.
Konsekuensi Berat bagi Pelanggar
Toyota Financial Services, Lexus Financial Services, dan Mazda Financial Services menyatakan tidak akan membeli kontrak sewa atau pembiayaan yang terkait dengan transaksi broker yang berasal dari New Jersey.
Jika ada kontrak yang lolos secara tidak sengaja, dealer bisa dipaksa membelinya kembali sendiri.
Beberapa dealer bahkan berisiko kehilangan perjanjian dengan pabrikan.
Ini menjadi risiko finansial serius di tengah meningkatnya aktivitas broker yang dilaporkan mempengaruhi sebagian besar penjualan regional, terutama di Timur Laut Amerika Serikat.
Seorang dealer di New Jersey mengaku kehilangan 50 persen pangsa pasar utamanya karena broker. Meski demikian, pelanggan yang membeli melalui broker sering kembali ke dealer untuk servis.
Para kritikus menilai praktik broker merusak perjanjian waralaba, mendistorsi sistem alokasi, dan menciptakan persaingan tidak sehat.
Sementara pendukungnya berargumen broker memberikan pengalaman lebih mulus bagi konsumen dan menghindari negosiasi harga yang rumit.
Komisi Kendaraan Bermotor New Jersey menegaskan bahwa transaksi mobil baru melalui broker melanggar aturan negara bagian dan dapat mengancam lisensi dealer.
Regulator tampaknya semakin serius menegakkan hukum yang sebelumnya dianggap tidak aktif oleh banyak pengecer.
Dealer sendiri terbelah. Sebagian menginginkan penegakan lebih ketat karena pesaing dianggap memanfaatkan program insentif pabrikan melalui penjualan berbasis broker.
Sebagian lain meragukan konsistensi pabrikan dalam menerapkan kebijakan, mengingat volume penjualan yang tinggi tetap menguntungkan merek.
Tantangan praktis lainnya adalah membuktikan keterlibatan broker.
Tanpa dokumen yang secara eksplisit mengungkap pembayaran atau koordinasi pihak ketiga, broker bisa tetap tidak terlihat selama transaksi.
Meski demikian, nada industri otomotif AS jelas berubah. Apa yang dulu ditoleransi secara diam-diam kini tampaknya mulai ditutup rapat.
