Startup truk listrik Windrose Technology dilaporkan mengalami masalah keuangan, termasuk gaji karyawan yang tertunggak dan satu unit truk yang hilang. Perusahaan yang didanai Rp400 miliar ini juga menghadapi tuntutan hukum.
Windrose Technology, startup truk listrik yang menjadi pesaing Tesla Semi, tengah menjadi sorotan setelah muncul laporan tentang gaji karyawan yang tidak dibayar dan satu unit truk yang hilang.
Perusahaan yang berbasis di Belgia dan dimiliki oleh investor China ini mengklaim telah mengumpulkan dana sekitar US$400 juta dan berambisi menjadi pemain utama di segmen truk listrik.
Namun, menurut laporan Wall Street Journal, pendiri sekaligus CEO Windrose, Wen Han, disebut kehilangan jejak salah satu truk perusahaannya awal tahun ini.
Gaji Tertunggak dan Tuntutan Hukum
Dua mantan karyawan yang dipecat pada Januari lalu, Travis Waite dan Harold Keller, menolak membantu Han menemukan truk tersebut hingga mereka menerima US$91.000 dalam bentuk gaji dan tunjangan yang belum dibayar.
Mereka mengklaim hingga Juli lalu, gaji mereka masih belum dibayar dan truk tersebut belum ditemukan. Han membantah jumlah yang ditagih kedua mantan karyawannya itu.
Han mengakui bahwa ia "terlalu cepat dan agresif dalam merekrut" demi ekspansi perusahaan.
Ia juga mengakui adanya masalah penggajian, namun menegaskan bahwa Windrose memiliki dana yang cukup untuk mendukung ambisi ekspansi globalnya.
Windrose berencana melantai di bursa melalui merger dengan perusahaan akuisisi tujuan khusus (SPAC) pada akhir tahun ini.
Perusahaan mengirimkan truk listrik pertamanya pada akhir 2024 dan saat ini memiliki 36 unit truk yang beroperasi di seluruh dunia.
Han mengklaim truk Windrose memiliki jarak tempuh dua kali lipat dibandingkan truk listrik Volvo dan Daimler, dengan harga yang jauh lebih murah.
Hal ini dimungkinkan karena perusahaan menggunakan kontraktor manufaktur di China untuk membangun truk, lalu dikirim ke mitra regional untuk perakitan lokal.
Sponsor dan Masalah Regulasi
Di tengah pertumbuhan perusahaan, Han disebut mensponsori tim basket di dekat markas Belgia, menjanjikan US$15 juta ke Stanford University setelah Windrose go public, serta memiliki fasilitas di California dan Georgia yang siap memulai perakitan lokal.
Namun, dalam periode yang sama, gaji karyawan disebut sering tertunda.
Pada Oktober lalu, kepala operasi pertama Windrose untuk Amerika Utara, Jason Gies, menuntut pembayaran gaji yang belum dibayar.
Ia dipecat beberapa hari kemudian, dan setelah mengajukan gugatan di pengadilan federal, hakim memerintahkan Windrose membayarnya US$413.000.
Baru-baru ini, Windrose juga mendapat perhatian dari National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) setelah terungkap bahwa dua dari empat truk Windrose di AS memiliki VIN yang menunjukkan buatan Georgia, padahal sebenarnya dibuat di China.
Han menyalahkan masalah ini pada mantan karyawan.
Windrose jelas sedang mengalami masa pertumbuhan yang sulit, dan waktu akan menentukan apakah perusahaan mampu mengatasi berbagai kendala ini.
