Porsche mengajukan paten untuk arsitektur powertrain modular yang dapat beroperasi sebagai EV murni, hybrid konvensional, atau range-extender. Sistem ini dirancang untuk beradaptasi dengan regulasi yang berbeda di setiap pasar.
Porsche telah mengajukan paten untuk arsitektur powertrain modular yang memungkinkan satu sistem beroperasi dalam tiga mode berbeda: full battery-electric vehicle (BEV), hybrid konvensional, dan range-extended EV.
Paten yang muncul pekan ini menunjukkan bahwa Porsche sedang merancang fleksibilitas pada perangkat keras, bukan hanya berkomitmen pada satu filosofi penggerak.
>>> Lexus Hentikan LF-ZC, Setujui Penerusnya di Hari yang Sama
Bagaimana Sistem Ini Bekerja
Dalam mode full-EV, mesin pembakaran terlepas sepenuhnya dan mobil berjalan hanya dengan tenaga baterai. Mode hybrid menggabungkan tenaga dari mesin pembakaran dan motor listrik secara bersamaan ke roda.
Mode ketiga adalah range-extended EV, di mana mesin pembakaran berfungsi sebagai generator untuk mengisi baterai tanpa terhubung secara mekanis ke roda.
Hal ini memberikan respons throttle yang langsung dan linear karena sepenuhnya dikendalikan oleh motor listrik.
Namun, kelemahannya adalah keluaran puncak sistem dibatasi oleh kapasitas generator dan baterai, berbeda dengan mode hybrid yang memanfaatkan torsi gabungan kedua sumber tenaga.
>>> Maserati MC20: V-6 Sports Car dengan Performa Setara V-8
Dampak pada Karakter Berkendara
Dalam mode hybrid penuh, pengemudi mendapatkan pita tenaga terluas dengan karakter responsif terhadap putaran mesin dan suara khas mobil performa.
Mode range-extender mengorbankan keluaran puncak demi konsistensi dan emisi nol di perkotaan.
Porsche bukan satu-satunya yang mengeksplorasi konsep ini; Ford dan Renault juga mengembangkan arsitektur range-extender, menunjukkan bahwa industri melihat kebutuhan regulasi di zona emisi nol perkotaan.
