Produsen mobil China beralih dari tempurung kelapa impor ke antrasit lokal untuk anoda baterai sodium-ion, mengatasi krisis pasokan dan menekan biaya produksi.
Produsen mobil China tengah merekayasa ulang bahan baku baterai sodium-ion untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan litium asing.
Langkah ini dilakukan dengan beralih ke sumber daya lokal, yaitu batubara antrasit.
>>> BYD Denza Z Ungkap Arsitektur Steer-by-Wire dengan Motor Tiga Unit
Baterai sodium-ion mulai digunakan pada kendaraan murah dan jaringan penyimpanan energi. Namun, tantangan teknis muncul karena ion sodium yang lebih besar tidak cocok dengan elektroda grafit konvensional.
Sel baterai membutuhkan elektroda negatif karbon keras khusus untuk menjaga stabilitas saat pengisian cepat. Hal ini memaksa produsen untuk mengubah proses kimia dan sumber bahan baku mereka.
Krisis Pasokan Tempurung Kelapa
Awalnya, karbon keras diproduksi dari tempurung kelapa yang dibakar, yang sebagian besar berasal dari Asia Tenggara.
Sayangnya, pasokan kelapa lokal China hanya cukup untuk memproduksi 6,3 GWh per tahun.
>>> Toyota dan Joby Aviation Bentuk Perusahaan Patungan untuk Produksi Taksi Terbang
Sementara itu, permintaan baterai sodium diperkirakan melebihi 100 GWh pada 2027. Ketergantungan pada pertanian tropis asing dinilai tidak berkelanjutan dan dapat menghentikan jalur produksi massal.
Solusi Batubara Antrasit
Untuk mengatasi kerentanan ini, perusahaan material China beralih ke batubara antrasit sebagai bahan baku. Batubara diproses dengan suhu tinggi untuk menghasilkan karbon non-grafitisasi dengan kemurnian tinggi.
Langkah ini mendukung segmen kendaraan listrik murah yang mulai diproduksi massal.
