otomotif1.com

Kebijakan Impor EV Baru Malaysia Persempit Akses Pasar BYD dan Eksportir China Lainnya

Kebijakan Impor EV Baru Malaysia Persempit Akses Pasar BYD dan Eksportir China Lainnya
In 2025, the Stellantis Group and Leapmotor announced that they would launch a local assembly project in Malaysia. Credit: Stellantis

Malaysia resmi memberlakukan aturan impor CBU EV yang lebih ketat per 1 Juli 2026, mempersempit akses pasar bagi BYD dan merek China lain yang mengandalkan model terjangkau.

Ukuran teks

Malaysia secara resmi memberlakukan regulasi impor kendaraan listrik (EV) Completely Built-Up (CBU) yang lebih ketat, secara signifikan mempersempit peluang pasar bagi produsen otomotif China seperti BYD yang sebelumnya telah memasuki sektor kendaraan energi baru setempat.

Ambang Batas Impor Baru

Mulai 1 Juli 2026, Kementerian Investasi, Perdagangan, dan Industri Malaysia (MITI) mewajibkan setiap EV CBU yang diimpor memenuhi dua kriteria utama.

>>> Mustang 1965 Bersejarah Ini Berjalan di Rel Disney Sebelum di Jalan

Pertama, nilai CIF (Cost, Insurance, and Freight) tidak boleh lebih rendah dari 200.000 ringgit (sekitar 29.400 dolar AS).

Kedua, daya motor tidak boleh kurang dari 180 kW (sekitar 241 hp).

Karena harga eceran akhir mencakup pajak tambahan, biaya operasional, dan margin keuntungan, kendaraan yang memenuhi kriteria ini diperkirakan memiliki harga terminal jauh di atas 200.000 ringgit.

in2

Kebijakan ini secara langsung berdampak pada merek China seperti BYD yang membangun pangsa pasar melalui model-model hemat biaya.

Dampak pada Merek China

Data dari Departemen Transportasi Jalan Malaysia (JPJ) menunjukkan bahwa merek China (tidak termasuk Proton milik Geely) menguasai sekitar 60 persen pasar kendaraan energi baru Malaysia pada 2025.

Namun, aturan baru membuat banyak model populer tidak memenuhi syarat untuk impor baru.

>>> Xpeng Mona L03 SUV dengan Chip Buatan Sendiri Buka Pre-Sale di China, Mulai 21.100 USD

Halaman 1 dari 2: 1 2

Update Terbaru

Lihat semua