General Motors mengonfirmasi Chevrolet berhenti menjual mobil baru di China setelah 21 tahun. Merek ini akan tetap produksi di China, namun fokus ke pasar ekspor.
John Roth, Wakil Presiden Eksekutif GM Global dan Presiden GM China, menyoroti kekuatan operasi lokal. “Kami melihat peluang besar untuk melampaui China dan menghadapi dunia,” ujar Roth.
Ia mencatat bahwa kemampuan lokal SAIC-GM di bidang teknik, manufaktur, dan kualitas dapat dimanfaatkan untuk memasuki pasar di Timur Tengah, Afrika, Amerika Selatan, Meksiko, dan kawasan Asia-Pasifik, didukung oleh jaringan penjualan dan purna jual global GM yang luas.
>>> Cadangan Minyak Strategis AS Anjlok ke Level Terendah Sejak 1983
Menjawab kekhawatiran pelanggan yang ada, GM menekankan akan terus memberikan layanan purna jual yang komprehensif bagi lebih dari 7,5 juta pemilik Chevrolet di China.
Perusahaan menjamin jaringan dealer akan tetap beroperasi dan pasokan suku cadang serta layanan perawatan tidak akan terpengaruh.
Perjalanan Chevrolet di China telah mengalami perubahan dramatis sejak diperkenalkan secara resmi pada 2005.
Merek ini mencapai puncak historis pada 2014 dengan penjualan ritel tahunan sekitar 767.000 unit, didorong oleh model populer seperti Cruze.
Namun, merek ini menghadapi penurunan tajam mulai sekitar 2018, yang disebabkan oleh adopsi mesin tiga silinder yang kontroversial, kebangkitan pesat merek domestik China, dan percepatan penetrasi NEV.
>>> Flock Dikabarkan Tawarkan Ubah 350.000 Uber dan Lyft Jadi Pemindai Plat Nomor
Pada 2025, penjualan tahunan turun menjadi kurang dari 9.000 unit.
