Produksi GR Corolla di Inggris berpotensi mendorong ekspor mobil Inggris melampaui kuota bea masuk AS, yang bisa menaikkan tarif dari 10% menjadi 27,5% dan membuat harga Range Rover, Bentley, dan Mini lebih mahal.
Kebijakan perdagangan global bisa menghasilkan hubungan yang tak terduga. Secara teknis, Toyota GR Corolla dan Rolls-Royce Phantom adalah dua mobil yang sangat berbeda.
Satu adalah hot hatch garang dengan penggerak all-wheel drive dan transmisi manual enam percepatan. Satunya lagi adalah mobil mewah enam digit yang lebih suka dikemudikan sopir.
Namun, karena aturan tarif impor AS, GR Corolla yang harganya sekitar US$40.000 berpotensi membuat harga Range Rover atau Bentley di Amerika Serikat melonjak.
Aturan Kuota Impor AS-Inggris
Berdasarkan perjanjian dagang AS-Inggris, mobil buatan Inggris yang diimpor ke AS dikenakan tarif 10 persen.
Namun, jika impor melebihi 25.000 kendaraan per kuartal atau 100.000 unit per tahun, tarifnya melonjak menjadi 27,5 persen.
Secara historis, kuota itu tidak pernah menjadi masalah besar.
Tahun lalu, merek seperti Aston Martin, Bentley, Land Rover, Lotus, Mini, McLaren, dan Rolls-Royce secara kolektif menjual hampir 98.000 kendaraan buatan Inggris di AS.
Angka itu sudah mendekati batas, tetapi masih ada ruang.
Toyota mungkin secara tidak sengaja mengganggu keseimbangan itu. Pabrikan Jepang itu berencana memulai produksi GR Corolla di pabrik Burnaston, Derbyshire, musim panas ini.
Toyota akan mengekspor hingga 10.000 unit per tahun ke pasar AS.
Tahun lalu, Toyota menjual 5.816 unit GR Corolla di Amerika. Dengan memindahkan produksi dari Jepang ke Inggris, Toyota berpotensi menurunkan beban tarifnya sendiri.
Versi buatan Jepang saat ini menghadapi tarif 15 persen, dan Toyota dilaporkan membayar US$9 miliar untuk tarif tahun lalu.
Masalahnya, penambahan hingga 10.000 mobil ke dalam sistem kuota yang sudah hampir penuh bisa mendorong total ekspor Inggris melampaui ambang batas 100.000 unit per tahun.
Akibatnya, seseorang harus membayar tarif 27,5 persen, bukan 10 persen.
Saat ini, belum ada sistem yang jelas untuk menentukan siapa yang terkena dampaknya.
Pakar industri mengatakan kepada Automotive News bahwa Inggris tidak memiliki strategi manajemen ekspor yang terkoordinasi antar pabrikan.
Secara teori, pabrikan bisa berebut mengirimkan stok lebih awal setiap kuartal untuk menghindari kuota.
Namun, bea cukai AS menerapkan tarif saat kendaraan diproses di pelabuhan, bukan saat meninggalkan Inggris. Hal itu membuat waktu pengiriman menjadi permainan logistik berisiko tinggi.
Tekanan juga datang dari model baru.
JLR diperkirakan akan meluncurkan Range Rover listrik, sementara jajaran mobil mewah listrik Jaguar yang akan datang juga siap menambah ketatnya kuota.
Semua ini menciptakan efek domino otomotif yang aneh.
Sebuah hot hatch Toyota bermesin turbo bisa memengaruhi apakah seseorang mendapatkan Range Rover, Mini, atau Bentley yang diinginkan dengan harga yang diharapkan.
