Dreame Technology menutup bisnis otomotifnya dan melikuidasi proyek 'Starry Sky'. Supercar dengan klaim akselerasi 0,9 detik dan baterai solid 450 Wh/kg ternyata hanya mimpi.
Model 'Rocket Car' diduga dibeli dari perusahaan model di Shanghai seharga beberapa juta yuan (ratusan ribu dolar AS) lalu dimodifikasi dengan sasis dan pendorong untuk efek visual di depan kamera.
Insider juga mengklaim logika operasional perusahaan terbalik.
Alih-alih berinvestasi di riset dan pengembangan untuk menciptakan produk, karyawan justru diminta mengamankan pendanaan terlebih dahulu sebelum anggaran R&D dialokasikan.
>>> GWM Luncurkan Haval H9 Edisi Li Hun di China, Harga Mulai Rp 483 Jutaan
Seorang mantan karyawan mencatat bahwa perusahaan menggunakan gaji tinggi dan jabatan berlebihan untuk merebut talenta dari produsen mobil mapan, dengan fokus pada pembiayaan daripada produksi.
Kontraksi cepat ini juga terkait dengan pengawasan regulasi.
Laporan menunjukkan otoritas pemerintah daerah turun tangan untuk menyelidiki penggunaan dana investasi, membatasi kemampuan perusahaan membelanjakan hibah pemerintah secara bebas.
CEO Dreame, Yu Hao, yang dikenal dengan gaya manajemen datar dan pendekatan 'wirausaha', kini mengalihkan perusahaan kembali ke kekuatan intinya.
Dreame telah menghilangkan sebagian besar 'inkubator' dan akan fokus pada empat lini bisnis utama: vakum, robot pemotong rumput, kendaraan listrik roda dua, dan robot 'Magic Atom'.
>>> Lamborghini Temerario Tricolore Kembali Setelah 15 Tahun, Tenaganya Hampir Dua Kali Lipat
Meski keluar dari sektor otomotif, perusahaan tetap berupaya melantai di pasar modal.
